Oleh : Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, RD

Prevalensi kegemukan di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan hasil dari Riset Kesehatan Dasar RI tahun 2018 diketahui bahwa lebih dari 35% penduduk Indonesia berusia dewasa mengalami kegemukan atau obesitas. Lalu bagaimana dengan remaja ?

Saya bersama tim dari National Institute of Health Research and Development (BALITBANGKES), Ministry of Health, Jakarta, Indonesia melakukan analisis terhadap hasil dari Global School-Based Health Survey di Indonesia pada tahun 2007 dan 2015. Riset ini dipimpin oleh Prisca Petty Arfines S.Gz, MPH dan melibatkan data dari 2,343 pelajar di tahun 2007 dan 11,124 pelajar di tahun 2015.

Prevalensi kegemukan dan obesitas meningkat

Berdasarkan perbandingan data di tahun 2007 dan di tahun 2015, ditemukan bahwa terdapat peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas dari 8.2% di tahun 2007 menjadi 14.2% di tahun 2015. Salah satu hal yang menarik dalam studi ini adalah dilaporkan bahwa prevalensi overweight atau kegemukan pada remaja laki-laki relatif stabil 4.5% (2007) dan 4.7% (2015), sedangkan remaja perempuan justru banyak mengalami peningkatan prevalensi dari 2.4% (2007) menjadi 5.6% (2015).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kegemukan dan obesitas

Untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kegemukan, peneliti mengkaji data gaya hidup remaja usia tersebut seperti pola makan (konsumsi sayur, buah, minuman berkarbonasi, alkohol dan fastfood), aktivitas fisik (berjalan atau bersepeda ke sekolah, total aktivitas fisik, mengikuti kelas olahraga, waktu yang dihabiskan untuk duduk), dan perilaku kebersihan (menucuci tangan setelah ke toilet).

Setelah melakukan uji asosiasi dengan berbagai macam koreksi terhadap faktor perancu, tim peneliti mengambil kesimpulan bahwa faktor-faktor berikut adalah penyebab kegemukan pada remaja di Indonesia.

  1. Food insecurity atau ketahanan pangan. Rendahnya ketahanan pangan berdampak pada buruknya pilihan bahan makanan. Makanan yang murah biasanya tinggi densitas energi dan rendah nilai gizi (misalnya vitamin dan mineral).
  2. Kurangnya konsumsi buah. Buah adalah komponen penting dalam gaya hidup yang sehat dan terbukti mampu mencegah obesitas di usia dini.
  3. Waktu yang digunakan untuk aktivitas duduk. Banyaknya waktu yang dihabiskan untuk duduk menandakan tingginya aktivitas sedentary. Hal ini juga menunjukan bahwa remaja tersebut jarang berolahraga. Aktivitas duduk (di luar sekolah) yang meningkatkan risiko kegemukan dalam konteks penelitian ini adalah jika lebih dari 3 jam perhari.
  4. Tidak berjalan kaki atau bersepeda menuju sekolah. Berjalan kaki atau bersepeda merupakan bagian dari aktivitas fisik yang penting. Moda transportasi ini dapat meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan risiko obesitas apabila dilakukan secara teratur. Oleh karena remaja sekolah 6 hari dalam seminggu, maka jenis aktivitas fisik ini dapat diandalkan untuk mencegah kegemukan dan obesitas. Sayangnya banvak remaja di kota besar yang sekolah jauh dari tempat tinggal mereka sehingga tidak dapat dijangkau dengan berjalan atau bersepeda.

Penelitian ini telah dipublikasi dan keseluruhan laporan hasil penelitian ini dapat dibaca pada jurnal berikut :

https://www.atlantis-press.com/proceedings/ishr-19/125935043