Oleh : Harry Freitag LM, S.Gz, M.Sc, RD

Meskipun bekerja di kota, saya tinggal di daerah pedesaan di salah satu kabupaten di Yogyakarta. Dengan adanya pandemi covid-19 ini saya tidak lagi harus ke luar rumah untuk bekerja dan banyak aktivitas yang akhirnya dilakukan di rumah, seperti halnya berolahraga. Saya semakin sering berlari pagi di daerah sekitar rumah. Kebetulan karena tinggal di desa, rumah saya tidak jauh dari persawahan.

Ada banyak yang saya amati saat melintasi persawahan. Salah satunya adalah fakta bahwa banyak petani yang menyemprotkan pestisida pada tanaman padi mereka di pagi hari. Sebelumnya saya tidak terlalu familiar dengan sistem pertanian di Indonesia, dan baru kali ini saya berpikir betapa ketergantungan sistem pertanian kita terhadap bahan kimia berupa pestisida. Saya merasa tidak nyaman mencium bau yang ditimbulkan oleh alat semprotan pestisida yang digunakan para petani disini. Saya tidak membayangkan mereka setiap hari berurusan dengan hal itu. Yang lebih saya tidak bayangkan lagi bahwa kita makan dari bahan makanan yang sering disemprotkan pestisida.

Selang beberapa minggu saya melakukan video conference dengan teman-teman saya di bangku kuliah dulu. Banyak dari mereka yang saat ini bekerja di sektor pelayanan kesehatan di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai tenaga pengajar di universitas, merupakan hal yang menarik untuk membahas bagaimana tren perkembangan penyakit dari sudut pandang mereka. Salah satu hal menarik yang dibahas dalam pertemuan virtual tersebut adalah meningkatnya kasus penyakit autoimun di beberapa kota, salah satunya adalah kota besar seperti Jakarta.

Mengapa penyakit yang sepertinya dulu asing terdengar saat ini mulai banyak merebak di negara kita? Terutama hal ini muncul di usia-usia yang relatif muda.

Beberapa riset yang dilakukan dalam 1-2 dekade terakhir membuktikan bahwa pestisida dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami berbagai macam penyakit kronis salah satunya adalah penyakit autoimun (1,2). Dari hasil riset tersebut diketahui juga beberapa pestisida jenis organochlorine seperti hexachloro-benzene, chlordane, DDT, methoxychlor, chlordecone diketahui berkorelasi dengan reaksi autoimunitas pada manusia. Meskipun demikian, efek dari pestisida terhadap kejadian autoimun memang bervariasi tergantung kondisi biologis tubuh seseorang (2). Faktor tersebut adalah

  1. Dosis dan durasi paparan : Semakin tinggi dosis dan durasi terpapar pestisida akan meningkatkan keparahan.
  2. Usia : Semakin meningkat usia risikonya akan semakin tinggi.
  3. Jenis kelamin : Respon terhadap pestisida bisa berbeda antara laki-laki dan perempuan. Hal ini diakibatkan pengaruh hormon.
  4. Genetik : Variasi genetik juga mempengaruhi respon pestisida terhadap kejadian autoimunitas. Gen telah banyak dilaporkan meningkatkan risiko penyakit autoimun karena pestisida adalah gen yang terlibat dalam sistem metabolisme xenobiotic.
  5. Gaya hidup : Kurang tidur, jarang olahraga, stress, merokok, mengonsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko penyakit autoimun yang disebabkan oleh pestisida.
  6. Asupan Gizi : beberapa zat gizi terutama pada sayuran dan buah memiliki vitamin dan mineral yang mampu mencegah penyakit autoimun.

Membeli makanan organik adalah pemborosan?

Meskipun mengetahui bahwa bahan makanan konvensional yang terpapar pestisida berdampak buruk bagi kesehatan, sulit bagi saya untuk merekomendasikan makanan organik kepada masyarakat. Alasannya adalah karena harganya yang relatif lebih mahal. Masyarakat Indonesia memiliki penghasilan yang sangat bervariasi, tidak semua orang dapat mengakses makanan yang memiliki nilai gizi tinggi, apalagi makanan dari sumber yang baik (organik). Harga beras organik di pasaran bisa berkali-kali lipat lebih mahal dari harga beras konvensional. Masyarakat dewasa ini lebih memilih membelanjakan penghasilannya untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak bersifat makanan, misalnya kendaraan baru, gadget, pulsa, pakaian, hiburan, investasi dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman pribadi berbincang dengan beberapa orang, masih banyak yang menganggap bahwa mengeluarkan uang lebih banyak untuk bahan makanan yang sama namun berasal dari pertanian organik adalah pemborosan.

Di universitas, saya dan tim pernah melakukan penelitian pada orang dewasa di kota Yogyakarta. Dalam penelitian tersebut kami menemukan bahwa porsi pengeluaran untuk makanan terbesar kedua adalah makan di restoran, sedangkan pengeluaran untuk makanan yang penting bagi kesehatan seperti sayur dan buah jauh berada di bawahnya. Kami lalu bertanya pada beberapa orang tersebut mengapa tidak menyukai sayur dan buah, tidak jarang jawabannya adalah karena alasan harga dan keterjangkauan. Jadi, orang yang sama yang mengatakan jarang makan sayur dan buah karena mahal juga sanggup mengeluarkan uang lebih banyak untuk makanan di restoran.

Berdasarkan tren yang dilaporkan di negara maju seperti Amerika Serikat (saya tidak punya data di Indonesia), dalam 50 tahun terakhir terjadi penurunan proporsi pengeluaran untuk membeli bahan makan jauh berkurang. Makanan mungkin menjadi semakin murah (relatif terhadap peningkatan penghasilan), salah satunya karena teknologi pertanian yang membuat sistem pertanian kita menjadi makin efisien dan banyak masalah yang dapat diatasi (misalnya hama, penyakit, dsb).

Mungkin, bagi sebagian besar masyarakat kita yang mulai meningkat status ekonominya dan katanya growing middle class, kesehatan bukanlah prioritas. Kesehatan merupakan prioritas bagi yang memiliki penghasilan yang cukup tinggi atau yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan, hal ini adalah sebuah privilage. Sebagian lagi, harus membayar makanan yang murah dengan kesehatan mereka.

Sumber :

  1. Mokarizadeh A, Faryabi MR, Rezvanfar MA, Abdollahi M. A comprehensive review of pesticides and the immune dysregulation: mechanisms, evidence and consequences. Toxicol Mech Methods. 2015;25(4):258‐278. doi:10.3109/15376516.2015.1020182.
  2. Mostafalou S, Abdollahi M. Pesticides and Human Chronic Diseases; Evidences, Mechanisms, and Perspectives, Toxicology and Applied Pharmacology. 2013. doi: 10.1016/j.taap.2013.01.025