Oleh : Winda Murod, S.Gz, M.Sc

Hallo semuaa…. Ketemu lagi di web Gizi Gama, kali ini saya akan bahas perihal per-garaman, yang nantinya bakal ada 3 artikel ya, saya sebut ini sebagai Salt Series. Garam adalah salah satu komponen makanan yang penting bagi manusia, dan bahkan kita selalu mengkonsumsinya setiap hari. Oleh karena itu, saya bersemangat nih untuk membahas ini, semoga bisa bermanfaat buat teman-teman semua. 

Nah untuk artikel pertama ini kita akan bahas garam yang lagi hits yaitu garam Himalaya, atau biasa disebut pink salt, yang mengklaim sebagai garam organik. Yuk kita simak penjelasan dibawah ini..

Fungsi Garam

Sebelum menuju ke pembahasan seputar garam-garam yang lagi hits, kita bahas dulu ya, apa sebenarnya fungsi garam bagi manusia. Garam yang mempunyai rumus ilmiah NaCl ini merupakan senyawa dari unsur Natrium dan Chlorida. Dalam tubuh manusia, kedua unsur ini akan terurai dan menjalankan fungsinya masing-masing, yaitu :

  1. Kandungan natrium dalam garam diperlukan untuk menjaga keseimbangan cairan, kesehatan jantung, hati, dan ginjal.
  2. Mempertahankan tekanan darah normal
  3. Mempertahankan keseimbangan cairan tubuh
  4. Menambah rasa sehingga meningkatkan nafsu makan. Orang dengan hipertensi pun tidak disarankan untuk sama sekali tidak mengkonsumsi garam, karena rasa masakan yang hambar dapat menurunkan asupan makan dan justru berujung pada penurunan status gizi.

Apa itu Garam Himalaya? 

Garam HImalaya adalah garam yang diambil dari area tambang garam terbesar di dunia di Pakistan, disebut sebagai Khewra Salt Mine. Garam ini tergolong mahal jika dibandingkan garam biasa, karena kandungannya yang murni berasal dari lapisan garam laut yang mengkristal di lapisan tanah yang dalam. Selain itu, garam ini hanya dapat ditemukan di kaki gunung Himalaya, sehingga membuat harganya tinggi.

Perbedaan Garam Himalaya dan Garam Dapur

Belakangan garam ini sangat populer di kalangan foodie, karena dianggap mempunyai khasiat yang lebih baik dibandingkan dengan garam dapur biasa. Memang benar, kandungan beberapa mineral dalam garam ini lebih tinggi, contohnya zat besi. Warna pink pada garam ini tercipta dari adanya iron oxida. Garam HImalaya juga mengandung beberapa mineral seperti kalsium, potassium, dan magnesium, sehingga jumlah kandungan natrium di dalamnya lebih sedikit. Namun demikian, klaim bahwa garam ini lebih sehat dari pada garam biasa sangat lemah bukti ilmiahnya. Kandungan mineral yang tinggi itu rupanya tidak berpengaruh secara signifikan dalam menambah asupan mineral, karena penggunaan garam dalam masakan sangat sedikit. 

Garam Himalaya juga mempunyai kelemahan, yaitu tidak adanya kandungan  yodium di dalamnya. Sampai saat ini saya belum menemukan produk garam Himalaya dengan label telah difortifikasi dengan yodium.. Kalau ada mungkin bisa diinfo ke saya ya.. Perlu diketahui, produk garam yang beredar di Indonesia yang sudah mendapat ijin Departemen Kesehatan, adalah garam yang sudah ditambah atau difortifikasi dengan yodium. Program ini merupakan kebijakan pemerintah, untuk mencegah gangguan akibat kekurangan yodium pada masyarakat Indonesia, yang dapat berdampak pada gangguan tumbuh kembang dan penyakit gondok. Sehingga, penggunaan garam Himalaya (tanpa fortifikasi yodium) setiap hari dalam jangka waktu panjang, terutama pada anak, dapat berisiko mengalami kekurangan yodium ini.  Atau jika Anda memang berniat untuk mengkonsumsi garam Himalaya setiap hari, maka harus dipastikan asupan yodium Anda cukup yang berasal dari ikan, produk susu, telur dan rumput laut.

Keunggulan lain dari garam HImalaya yang dinilai mempunyai rasa lebih enak ketika dijadikan garam tabur–saya sendiri juga merasakannya—serta mempunyai warna pink yang indah, sehingga dapat menggugah selera makan. Misal digunakan sebagai taburan pada telur setengah matang, telur rebus, salad, french fries atau masakan lain yang menonjolkan garam sebagai taburan. 

Mana yang lebih baik?

Sejauh ini, tidak ada penelitian yang membuktikan perbedaan efek kesehatan dari berbagai jenis garam. Semua garam adalah sama, terdiri dari Natrium dan Chlorida, dengan kandungan mineral lain di dalamnya. Saya pribadi tidak memihak mana yang lebih baik dan tidak. Tujuan dari penggunaan garam itu sendiri yang lebih penting. Garam Himalaya adalah garam yang estetis untuk penampilan masakan, namun saya juga tidak berani jika selali menggunakannya setiap kali makan, terkait tidak adanya kandungan yodium di dalamnya.  

Sumber

Carapeto, C., Brum, D., & Rocha, M.J. Which Table Salt to Choose?  Journal of Nutriton and Food Science 2018, 8:3. 

World Health Organization. WHO. Guideline: Sodium intake for adults and children. Geneva, World Health Organization (WHO), 2012.