Peran Vitamin A Terhadap Sistem Imun

Oleh : Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, RD

Vitamin A adalah salah satu jenis vitamin larut lemak. Vitamin ini ditemukan pada tahun 1916 dan saat ini dikenal dengan beberapa jenis nama atau isoform, retinol, retinal dan asam retinoat. Dari ketiga jenis isoform vitamin A tersebut, retinol adalah jenis vitamin A yang memiliki bentuk yang aktif dan memiliki peran biologis yang penting bagi tubuh. DI dalam tubuh manusia, terjadi turnover atau perubahan jenis vitamin A dari bentuk yang satu ke bentuk yang lainnya. Retinol dapat dibentuk dari retinal dan retinal dapat membentuk asam retinoat. Selain 3 jenis isoform vitamin A tersebut juga dikenal jenis komponen bioaktif yang disebut sebagai carotenoid. Beberapa jenis carotenoid adalah molekul pro-vitamin A atau dapat diubah menjadi vitamin A. Meskipun demikian hanya beberapa jenis carotenoid yang dapat diubah menjadi vitamin A, salah satunya adalah beta-caroten. Carotenoid yang tidak dapat diubah menjadi vitamin A adalah likopen, zeaxantin dan lutein. 

Vitamin A banyak terdapat pada produk-produk makanan hewani sedangkan sumber pro-vitamin A banyak terdapat pada produk-produk makanan nabati. Sumber vitamin A banyak terdapat pada hati dan jeroan hewan, ikan laut dalam serta produk olahan susu. Sumber olahan hewani yang sudah mengalami pengurangan lemak seperti susu rendah lemak biasanya mengalami penurunan kandungan vitamin A. Saat ini, banyak produk-produk makanan seperti minyak dan margarin yang terfortifikasi vitamin A. Pada produk makanan nabati, pro vitamin A banyak terdapat pada bahan makanan yang berwarna kuning, oranye. Pro-vitamin A juga banyak terdapat pada daun-daun hijau seperti bayam dan kangkung. 

Vitamin A bekerja untuk mengendalikan beberapa proses bagi tubuh. Hal ini dilakukan dengan interaksi antara metabolit vitamin A seperti asam retinoat dengan reseptor asam retinoat di nukleus sel. Vitamin ini berfungsi untuk melakukan pengaturan terhadap diferensiasi sel. Salah satu dampak yang diberikan adalah ketika tubuh mengalami defisiensi vitamin A dapat mengganggu mukosa epitel. Salah satu bukti dari dampak ini adalah ditemukan pada individu yang mengalami kekurangan vitamin A mudah untuk mengalami infeksi paoteng pada mata, sistem pernafasan dan saluran pencernaan (Sommer et al, 1984; Barreto et al, 1994). Sebagai tambahan, pemberian suplementasi vitamin A pada anak juga dapat menurunkan kejadian infeksi.

Peran vitamin A sebagai salah satu zat gizi penting dalam pembentukan sistem imun diketahui sejak abad ke 20. Pada masa itu peneliti mengkaji efek dari diit yang tidak memiliki vitamin A terhadap status kesehatannya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa anjing yang kekurang vitamin A dalam diitnya mengalami infeksi saluraan pernapasan serta gangguan tulang. Hasil studi ini kemudian didukung oleh penelitian pada tikus. Baru pada abad ke 21, peneliti-peneliti di bidang gizi kemudian mengkaji manfaat dari vitamin A pada ststus imunitas manusia dengan menggunakan metode randomized controlled trial. Hasil dari penelitian itu diketahui bahwa pemberian supementasi mampu menguraangi angka kemaatian dan kesakitan terutama yang diakibatkan oleh infeksi. 

Vitamin A berhubungan dengan kompetensi sistem imun serta sel-sel efektor dari komponen sistem imun. Pada individu yang mengalami defisiensi vitamin A ditemukan menurunnya kemampuan sistem imun yang ditandai oleh rendahkan kemampuan fagositosis dan oksidatif dari makrofag. Kondisi kekurangan vitamin A juga dapat menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel natural killer. Terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan peran dari vitamin A terhadap efektor sistem imun ini. Salah satu penjelasannya adalah bahwa aktivasi reseptor asam retinoat dapat memicu proses proliferasi. Vitamin A juga diketahui dapat menginduksi perkembangan dan diferensiasi Th1 dan Th2

Asam retinoat merupakan turunan dari vitamin A yang memiliki peran terhadap beberapa sistem fisiologis tubuh manusia, seperti fungsi imunologis. Di dalam tubuh terdapat 2 jenis asam retinoat yaitu all-trans-asam retinoat dan 9-cis asam retinoat yang memiliki fungsi dalam pengaturan eksresi gen. Salah satu efek dari pengaturan ekpresi gen ini berkaitan dengan proliferasi dan diferensiasi sel-sel leukosit. Selain itu , asam retinoat juga memiliki beberapa pengaruh pada komponens sistem imun lain seperti sel dendritik, monosit/makrofag, sel B dan sel T. Berikut ini adalah hasil-hasil temuan mengenai turunan vitamin A yaitu asam retinoat terhadap komponen-komponen sistem imun tersebut. 

Sel Dendritik

Sel dendritik adalah sel yang pertama kali menginduksi reaksi sistem imun adaptif dan memegang peran sebagai antigen presenting cells. Sel ini membawa antigen dan menstimulasi reaksi sistem imun adaptif sehingga memberikan reaksi imun yang lebih spesifik. Beberapa penelitian mengungkap peran retinoid dalam menginduksi monocyte-derived dendritic cell (MoDC). Retinoid dan sitokin pro inflamasi dapat menginduksi peningkatan ekspresi MHC-II dan CD86 di MoDC. Hal ini dilakukan dengan menginduksi sinyal dari RARĪ±/
RXR dan peningkatan ekspresi protein ini akan meningkatkan proliferasi sel T. Asam retinoat juga diketahui menginduksi gut-homing dari sel dendritik. 

Monosit / makrofag

Secara umum, makrofag memiliki kemampuan untuk menghasilkan sitokin proinflamasi seperti tumor necrosis factor dan nitrit oxide. Sel ini juga memiliki kemampuan untuk menginduksi pembentukan Th1 melalui sitokin. Pada sel monosit dan makrofag, asam retinoat memiliki kemampuan untuk menghambat pelepasan sitokin yang menginduksi pembentukan sel Th1 dan meningkatkan produksi sitokin yang menginduksi pembentukan Th2. Pada sel makrofag yang diaktivasi oleh LPS, pemberian all-trans asam retinoat diketahui menurunkan produksi TNF dan NO. 

Sel B 

Sel B adalah sel efektor sistem imun yang dapat menghasilkan antibodi yang dapat bekerja mengatasi infeksi patogen. Berdasarkan hasil studi in vitro, asam retinoat memiliki efek langsung dan tidak langsung terhadap isotype switching dan produksi antibodi dari sel B. 

Sel T

Vitamin A telah lama diteliti memiliki kemampuan untuk meningkatkan sistem imun. Pada penelitian klinis diketahui bahwa asam retinoat mampu meningkatkan produksi sel T di perifer. Asam retinoat terlibat pada diferensiasi sel T. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa asam retinoat diketahui mampu meningkatkan diferensiasi Th2 dan menurunkan diferensiasi Th1. Hal ini dilakukan dengan meregulasi sinyal-sinyal yang diproduksi oleh sel dendritik, makrofag dan sel B. Asam retinoat juga diperkirakan menginduksi produksi sel Treg yang pada giliranya akan menginduksi penurunan inflamasi. 

Untuk mendapatkan materi legkap, silahkan membaca buku Imunologi Gizi dari UGM Press. https://ugmpress.ugm.ac.id/id/product/kesehatan/imunologi-gizi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *