Apakah Kondisi Sosio-Ekonomi Menyebabkan Obesitas ?


Sosio-ekonomi dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap prevalensi obesitas di suatu negara. Pada penelitian-penelitian yang dilakukan pada migran diketahui bahwa obesitas merupakan faktor yang banyak dijumpai pada kelompok tersebut. Meskipun pada awalnya obesitas dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi yang tinggi, kini banyak studi-studi yang menunjukan kondisi sebaliknya. Obesitas banyak ditemukan justru pada individu dengan konsisi sosioekonomi menengah ke bawah. Para ilmuwan bespekulasi bahwa tingginya kejadian obesitas pada kelompok pekerja yang memiliki kondisi sosioekonomi rendah adalah karena keterbatasan dalam kemampuan mereka mengakses pilihan makanan yang sehat. Argumentasi ini cukup relevan karena dewasa ini pilihan makanan murah biasanya adalah makanan terproses dan makanan instan yang kaya akan lemak dan gula sederhana. Sedangkan bahan makanan segar dan lebih sehat menjadi cenderung lebih mahal. Selain kondisi ekonomi, tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap kejadian obesitas. Pada wanita, dilaporkan bahwa tingkat pendidikan berhubungan terbalik dengan obesitas (Sobal  dan  Stunkard, 1989). 

Kami melakukan penelitian mengenai peran dari faktor sosioekonomi terhadap kejadian overweight atau kelebihan berat badan pada wanita yang tinggal di Kepulauan Raas dan Sapudi. Kami tertarik melakukan penelitian tersebut karena masih jarang penelitian di Indonesia yang dilakukan di daerah terpencil mengenai topik obesitas. Ini menjadi menarik karena Indonesia adalah negara bahari dengan kepulauan yang cukup banyak. Raas dan Sapudi adalah kepulauan di daerah dekat Pulau Madura. Dibandingkan pulau-pulau lain yang ada di daerah itu, Raas dan Sapudi adalah pulau yang paling banyak dihuni. Penelitian ini melibatkan 507 pria dan wanita yang kami ukur status gizinya. Setelah diukur kami melakukan wawancara terhadap wanitanya yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga. 

Dari penelitian tersebut kami mengetahui bahwa wanita yang tinggal di kepulauan tersebut memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada studi ini kami juga mempelajari faktor sosioekonomi yang melatarbelakangi terjadinya kegemukan pada wanita. Hasil dari wawancara kami menunjukan bahwa overweight berkaitan dengan status pekerjaan, jarak untuk memperoleh makanan dan jumlah pengeluaran yang diperlukan untuk membeli makanan. Satu hal lagi yang menarik adalah kami juga menemukan bahwa kegemukan berkaitan erat dengan usia saat menikah. Rata-rata wanita yang saat itu mengalami overweight atau kegemukan menikah lebih muda dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami overweight.  

Dari penelitian ini kami menunjukan bahwa kasus kegemukan di daerah pedesaan atau lokasi terpencil juga sudah mulai harus mendapatkan perhatian. Sebelumnya kegemukan selalu dikaitkan dengan kehidupan di kota besar. Meskipun demikian sepertinya saat ini sudah mulai terjadi pergeseran paradigma dan kasus bahwa obesitas dan kegemukan juga mulai mengancam individu yang tinggal di daerah yang jauh dari kota. Beberapa studi menyebutkan bahwa hal ini berkaitan erat dengan transformasi pola makan dan aktivitas fisik pada individu yang tinggal di daerah pedesaan tersebut. 

Wanita secara umum lebih banyak yang mengalami masalah berat badan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini tidak hanya dilaporkan pada penelitian ini, tetapi juga didukung oleh hasil dari Riset Kesehatan Dasar atau RISKESDAS serta studi yang dilakukan di luar negri. Secara biologis wanita lebih mudah menyimpan lemak dibandingkan laki-laki karena pengaruh hormon terutama estrogen (bagian ini akan lebih jauh dibahas pada bab tersendiri). 

Dari penelitian ini kami juga menemukan sebuah fakta yang menarik bahwa wanita yang tidak memiliki pekerjaan (selain sebagai ibu rumah tangga) memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi gemuk. Hal ini dikarenakan bagi individu yang tinggal di daerah kepulauan ini, memiliki pekerjaan di pulau terpencil membutuhkan aktivitas fisik yang tinggi karena jenis pekerjaannya serta saran-prasarana (seperti transportasi) yang lebih terbatas dibandingkan di perkotaan. 

Status pernikahan ternyata merupakan salah satu faktor sosial yang berkaitan dengan kejadian kegemukan pada wanita yang tinggal di Kepulauan Raas dan Sapudi. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Cina yang menunjukan bahwa wanita yang masih lajang memiliki IMT yang lebih rendah dari yang telah menikah atau bercerai. Dalam penelitian kami, semakin muda usia pernikahan wanita, maka akan semakin mudah untuk menjadi gemuk. Hal ini diperkirakan karena dalam struktur sosial, wanita memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya sehingga aksesnya terhadap makanan cukup tinggi.  

Obesitas Translasional: Aspek Klinis dan Molekuler dari Kejadian Obesitas
Penulis: Harry Freitag Luglio Muhammad

ISBN: 978-602-386-191-0

Buku ini menyajikan bagaimana metabolisme dalam tubuh manusia memegang peranan penting terhadap terjadinya obesitas. Metabolisme dalam tubuh manusia dikendalikan melalui proses molekuler, seperti variasi genetik. Buku ini juga menjelaskan gambaran umum mengenai kajian nutrigenomik pada kondisi obesitas. Selain itu, buku ini diharapkan dapat menjadi landasan pemahaman bagaimana kecenderungan seseorang untuk menjadi gemuk dipengaruhi oleh faktor genetik, dan bagaimana proses molekuler tersebut mengendalikan metabolisme dalam tubuh kita. Pembaca diharapkan dapat menjadikan buku ini sebagai landasan untuk penelitian selanjutnya sehingga penelitian di bidang obesitas yang sifatnya translasional dapat ditingkatkan. Penulis juga berharap dapat mengantarkan pembaca ke sebuah wacana metode penanganan gizi berbasis informasi genetik dari masing-masing individu. Hal ini penting karena ke depannya pelayanan kesehatan secara umum dan gizi secara khusus akan lebih terpersonalisasi.

Ikuti kelas kami di Udemy

Memulai Program Diet

Program Penurunan Berat Badan

Nutrigenetik : Interaksi Genetik dan Dizi

Lemak dan Kesehatan

Sumber :

Sobal  J,  Stunkard  A.  Socioeconomic  status  and  obesity:  a  review  of  the  literature.  Psych  Bull 1989;105:260–75.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *