DIET untuk SIROSIS Hati – Prinsip

Kebutuhan energi

Resting Energy Expenditure / Basal Metabolic Rate (REE) biasanya sebanding dengan pengeluaran energi yang diprediksi dengan rumus seperti Harris-Benedict atau Schofield. Meskipun demikian, pada masing-masing pasien, REE yang diukur mungkin menyimpang secara signifikan dari nilai yang diharapkan, sehingga memerlukan penggunaan alat ukur kalorimetri indirect untuk mengukurnya secara akurat.

Hipermetabolisme adalah masalah yang telah diteliti pada pasien dengan sirosis dan Alcoholic Steato Hepatitis (ASH). Pada pasien ASH, hipermetabolisme dapat dipertimbangkan jika pengukuran REE dikaitkan dengan penurunan massa otot. 

Pada 35% pasien sirosis, REE yang diukur lebih dari 20% di atas nilai prediksi, yang mengindikasikan adanya kondisi hipermetabolisme. Sebaliknya, pada 18% pasien, REE yang diukur lebih dari 20% di bawah nilai yang diperkirakan. 

Hipermetabolisme dikaitkan dengan berkurangnya kelangsungan hidup dan hasil yang tidak menguntungkan setelah transplantasi hati. Namun, kondisi ini mengalami perbaikan seiring dengan perbaikan komposisi tubuh dan transplantasi hati. Mendiagnosis hipermetabolisme memerlukan penggunaan kalorimetri indirect, yang tidak mungkin dilakukan oleh sebagian besar tenaga kesehatan dalam praktik sehari-hari.

Pengukuran Total Pengeluaran Energi (TEE) menunjukkan bahwa kebutuhan energi 24 jam pasien sirosis adalah sekitar 130% dari Basal Metabolic Rate (BMR). 

Termogenesis pada kasus sirosis hati berbeda dengan termogenesis yang disebabkan oleh pola makan dan biaya energi dari aktivitas fisik berbeda dari individu sehat. Namun, tingkat aktivitas fisik spontan jauh lebih rendah pada pasien sirosis. Peningkatan REE pada penyakit lanjut diimbangi dengan berkurangnya aktivitas fisik, yang mencerminkan kondisi fisik mereka yang buruk.

Pada penderita sirosis tanpa asites, berat badan dihitung menggunakan rumus seperti Harris dan Benedict untuk menghitung BMR. Namun, pada pasien dengan asites, berat badan ideal menurut tinggi badan harus digunakan, meskipun demikian ada saran bahwa massa asites tidak boleh diabaikan saat menghitung pengeluaran energi. Hal ini masih menjadi kontroversi.

Karbohidrat

Pasien sirosis hati yang menggunakan bahan bakar oksidatif mengalami peningkatan oksidasi lipid selama puasa, yang menyebabkan resistensi insulin (bahkan pada pasien dengan Child–Pugh class A). Selama puasa, oksidasi glukosa menurun, dan produksi glukosa hati menjadi rendah karena penipisan glikogen hati. 

Metabolisme otot rangka dipengaruhi oleh resistensi insulin, hal ini berkontribusi terhadap penurunan penyerapan glukosa otot dan sintesis glikogen. Meskipun demikian, oksidasi glukosa dan produksi laktat sama dengan kondisi normal. 

Tidak jelas apakah pengendapan glukosa sebagai glikogen terganggu pada otot rangka saja atau pada otot dan hati. Pada sekitar 15-37% pasien juga mengalami diabetes, hal ini menunjukan prognosis penyakit yang buruk.

Lemak

Saat puasa, kadar asam lemak bebas, gliserol, dan badan keton dalam plasma meningkat. Oksidasi asam lemak adalah komponen yang diutama sebagai sumber energi pada kondisi ini, dan lipolisis (pemecahan lipida) meningkat seiring dengan peningkatan mobilisasi lipid.

Setelah makan, penekanan oksidasi lipid tidak terganggu dan pembersihan plasma dan laju oksidasi lipid tidak berkurang. Pada sirosis, kadar asam lemak esensial dan asam lemak tak jenuh ganda dalam plasma menurun, dan penurunan ini berkorelasi dengan status gizi dan tingkat keparahan penyakit hati.

Protein

Pergantian/ turnover protein pada pasien sirosis cenderung normal atau meningkat. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan pemecahan protein, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa penurunan sintesis protein memainkan peran utama. 

Tingkat sintesis albumin berkorelasi dengan tes fungsi hati dan stadium klinis sirosis. Namun, sirosis stabil tampaknya mampu mempertahankan nitrogen secara efisien dan pembentukan massa tubuh tanpa lemak secara signifikan dari peningkatan asupan protein selama terapi nutrisi oral. 

Katabolisme protein menyebabkan ketidakseimbangan plasma dan asam amino otot pada sirosis, yang secara tidak langsung menyebabkan kelebihan nitrogen ke hati dan hiperamonemia. 

Beberapa metode alternatif seperti camilan karbohidrat di malam hari dapat meningkatkan metabolisme protein pada pasien sirosis. Komponen lainnya dari masalah penyakit hati yaitu resistensi insulin diketahui tidak mempengaruhi pembuangan asam amino.

Data mengenai kebutuhan protein pada pasien sirosis hati masih terbatas. Pasien dengan sirosis stabil memerlukan peningkatan asupan protein sebesar 1,2 g/kg BB/hari dibandingkan dengan informasi minimal yang direkomendasikan sebesar 0,8 g/kg BB/hari untuk orang dewasa yang sehat dan bergizi baik.

Pada sirosis, pola asam amino plasma berubah, dengan peningkatan asam amino aromatik (phenylalanine, tyrosine) dan asam amino bersulfur (methionine) serta triptofan dan penurunan BCAA. 

Penurunan pembersihan metabolik akibat kegagalan hati menyebabkan akumulasi asam amino aromatik dan yang mengandung sulfur dalam plasma dan otot rangka. Sebagai tambahan peningkatan glukoneogenesis dan detoksifikasi amonia, serta portal systemic shunting, berkontribusi terhadap penurunan BCAA di hati, plasma dan otot rangka. 

Untuk mendapatkan materi lebih lanjut, bergabunglah dengan Kelas Diet untuk Penyakit Hati yang tersedia di Udemy. Gunakan tautan pada gambar berikut.

Oleh Harry Freitag LM, S.Gz, M.Sc, RD, PhD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *