Kesalahan Pola Makan dan Obesitas


Obesitas merupakan kondisi kesehatan yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti pola makan, aktivitas fisik, perilaku, genetik dan hormonal. Sebagian besar dari faktor risiko obesitas adalah perubahan besar yang terjadi di dunia ini. Perubahan ini terjadi secara individual saja dan juga secara sistemik di hampir seluruh negara di dunia ini. Perubahan ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi dan inovasi yang dilakukan oleh manusia. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan berkembanganya dunia teknologi pegolahan makanan, transportasi serta arus globalisasi menyebabkan perubahan pada pola makan masyarakat di hampir semua belahan dunia. Struktur dan komposisi makanan dari banyak negara mengalami perubahan mengikuti tren perubahan pola makan dunia. Dewasa ini jumlah makanan dan minuman terproses yang telah dimaniskan meningkat secara drastis. Produk-produk ini yang terutama diproduksi oleh perusahaan makanan dan minuman multinasional dengan promosi yang sangat efektif sehingga memungkinkan perubahan secara dramatis pada pola makan masyarakat. 

Selain konsumsi makanan dan minuman terproses, masyarakat kita juga semakin banyak mengonsumsi minyak sebagai salah satu komponen dalam diitnya. Minyak merupakan bahan makanan yang mendukung penyajian makanan makanan-makanan terutama di wilayah Asia, Timur Tengah dan Afrika. Saat ini semakin banyak orang yang sering mengkonsumsi makanan berminyak daripada sebelumnya, konsumsi minyak ini dapat menjadi masalah ketika tidak diimbangin dengan diit yang seimbang.

Di negara yang memiliki pemasukkan rendah, jumlah makanan yang padat energi meningkat dengan sangat pesat. Makanan ini disajikan dengan harga yang lebih murah sehingga memancing keinginan masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsinya. Lebih dari itu, dengan berkembangnya teknologi pertanian dan pengolahan makanan serta sistem perdagagangan yang meluas, kini negara-negara berkembang (seperti halnya Indonesia)  mengonsumsi lebih banyak produk makanan hewani dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini dapat diperparah dengan rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap pola makan yang baik, kurangnya promosi kesehatan serta kepercayaan masyarakat yang seringkali menghalangi penerimaan masyarakat terhadap informasi yang benar mengenai pola makan yang sehat.  

Perubahan mendasar yang terjadi di seluruh belahan dunia tidak hanya berkaitan dengan pola makan saja. Dengan adanya perkembangan teknologi baik itu teknologi transportasi dan komunikasi, pola aktivitas masyarakat pun mengalami perubahan. Kini semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan di balik meja kantor sehingga energi yang diperlukan untuk beraktivitas menurun dengan drastis. Penurunan aktivitas fisik juga terjadi pada hampir semua jenis pekerjaan. 

Di negara dengan pemasukan rendah, jumlah makanan pada energi yang disajikan ke masyarakat meningkat pesat. Masakan siap saji dengan harga murah semakin menjadi preferensi masyarakat.

Di bidang transportasi masyarakat kita mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Meskipun negara kita tidak memproduksi sendiri mobil atau sepeda motor, tetapi jumlah penggunanya di perkotaan dapat dikatakan tinggi. Fungsi sepeda yang dulu merupakan model transportasi utama di pedesaan pun kini semakin tergeser oleh motor dan mobil. 

Asupan energi merupakan komponen utama dari kejadian obesitas. Tingginya asupan energi dapat diinduksi oleh tingginya asupan makan. Terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi risiko peningkatan asupan makan seperti:  

  • Harga makanan yang semakin murah, 
  • Porsi makanan yang semakin besar, 
  • Rasa yang semakin diminati, 
  • Ragam pilihan makanan yang tersedia 
  • Akses terhadap makanan yang semakin terjangkau
  • Metode untuk mempersiapkan makanan yang semakin cepat dan sederhana
  • Dorongan sosial dan kultural terhadap makanan

Tingginya asupan kalori dapat menyebabkan seseorang menjadi obesitas dengan beberapa cara. Pertama, tingginya konsumsi energi baik itu berasal dari protein, karbohidrat dan lemak akan menyediakan substrat untuk penyimpanannya. Kedua, konsumsi karbohidrat sederhana yang tinggi akan meningkatkan kadar insulin postprandial yang kemudian memicu penyimpanan energi dalam bentuk trigliserida. Proses ini disebut sebagai de novo lipogenesis (yang nanti akan dibahas secara mendalam pada bab berikutnya). Tingginya kadar insulin juga dapat berdampak pada peningkatan rasa lapar karena mampu menginduksi penurunan glukosa. Saat glukosa dalam darah rendah makan seseorang akan sangat terdorong untuk mencari makanan yang tinggi energi sebagai kompensasinya.

Dewasa ini dengan berkembangnya era industrialisasi makanan semakin banyak ditemukan makanan yang kaya akan lemak dan karbohidrat sederhana dan rendah akan serat. Jenis lemak yang banyak ditemui adalah lemak jenuh. Dan peneletitian-penelitian telah menunjukan bahwa lemak jenuh memberikan efek yang lebih kuat terhadap penambahan berat badan dibandingkan dengan lemak tidak jenuh (Piers et al 2003).

Oleh : Harry Freitag LM, S.Gz, M.Sc, RD, PhD

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai obesitas, ikuti Kelas Manajemen Obesitas oleh Harry Freitag LM, S.Gz, M.Sc, RD, PhD di udemy.


<<< Klik Gambarnya

Obesitas Translasional: Aspek Klinis dan Molekuler dari Kejadian Obesitas
Penulis: Harry Freitag Luglio Muhammad

ISBN: 978-602-386-191-0

Buku ini menyajikan bagaimana metabolisme dalam tubuh manusia memegang peranan penting terhadap terjadinya obesitas. Metabolisme dalam tubuh manusia dikendalikan melalui proses molekuler, seperti variasi genetik. Buku ini juga menjelaskan gambaran umum mengenai kajian nutrigenomik pada kondisi obesitas. Selain itu, buku ini diharapkan dapat menjadi landasan pemahaman bagaimana kecenderungan seseorang untuk menjadi gemuk dipengaruhi oleh faktor genetik, dan bagaimana proses molekuler tersebut mengendalikan metabolisme dalam tubuh kita. Pembaca diharapkan dapat menjadikan buku ini sebagai landasan untuk penelitian selanjutnya sehingga penelitian di bidang obesitas yang sifatnya translasional dapat ditingkatkan. Penulis juga berharap dapat mengantarkan pembaca ke sebuah wacana metode penanganan gizi berbasis informasi genetik dari masing-masing individu. Hal ini penting karena ke depannya pelayanan kesehatan secara umum dan gizi secara khusus akan lebih terpersonalisasi.

Ikuti kelas kami di Udemy

Memulai Program Diet

Program Penurunan Berat Badan

Nutrigenetik : Interaksi Genetik dan Dizi

Lemak dan Kesehatan

Sumber :

Piers LS, Walker KZ, Stoney RM, Soares MJ, O`Dea K. 2003. Substitution of saturated with monounsaturated  fat in a 4-week diet affects body weight and composition of overweight and obese men. British J Nutr 90, 717–2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *