Status Gizi dan Penyakit Hati

Nutrisi telah lama diakui sebagai faktor penentu dalam prognosa dan terapi bagi pasien yang menderita penyakit hati kronis (Chronic Liver Disease/CLD). Meskipun demikian, pandangan mengenai signifikansi permasalahan gizi dalam pengelolaan pasien bervariasi di kalangan ahli hepatologi.

Proses penilaian risiko gizi pasien menuntut tinjauan teliti terhadap berbagai faktor. Ini melibatkan evaluasi kapasitas fisiologis pasien serta mempertimbangkan beban penyakit atau prosedur medis yang mungkin harus mereka jalani. Evaluasi komprehensif harus mencakup tidak hanya pengukuran berat dan tinggi badan, tetapi juga penilaian terhadap keseimbangan energi dan zat gizi, komposisi tubuh, serta fungsi jaringan tubuh terkait. Penting untuk memahami bahwa pengukuran ini bersifat dinamis, dan kesannya adalah untuk bisa mendeteksi perubahan dari waktu ke waktu guna mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai status gizi pasien.

Terdapat beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk menilai status gizi seorang pasien. Pendekatan sederhana yang dilakukan di tempat tidur, seperti Penilaian Global Subjektif (Subjective Global Assessment/SGA) atau pengukuran antropometri, bisa efektif dalam mendeteksi kekurangan gizi. Sistem penilaian yang menggabungkan antara berat badan aktual dan berat badan ideal, indeks kreatinin, serta faktor lain, juga telah digunakan oleh beberapa praktisi medis.

Menilai status gizi dapat menjadi tantangan jika terjadi kelebihan cairan atau gangguan dalam pembentukan /sintesis protein hati. Dalam kasus seperti ini, metodologi yang lebih canggih mungkin diperlukan, seperti penghitungan kalium seluruh tubuh, dual- energy X-ray absorptiometry (DXA) , dan in vivo neutron activation analysis. Pemeriksaan lainnya seperti phase angle ╬▒ atau body cell mass dengan menggunakan bioimpedance analysis dinilai lebih baik daripada antropometri dan ekskresi kreatinin 24 jam. 

Fungsi otot, yang diukur dengan kekuatan genggaman tangan, dapat menjadi prediktor outcome pasien penyakit hati kronis yang kekurangan gizi. Penting untuk dicatat bahwa kadar protein visceral plasma dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemampuan sintetik hati, penggunaan alkohol, dan kondisi peradangan. Sebagai tambahan, status kekebalan, yang sering digunakan untuk mendiagnosis malnutrisi fungsional, juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti hipersplenisme dan kecanduan alkohol. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor ini ketika menilai status gizi pasien.

Dampak Masalah Gizi pada Kejadian Penyakit Hati

Kekurangan gizi yang parah pada anak-anak dapat berdampak buruk pada liver mereka, yang menyebabkan penumpukan lemak di organ tersebut. Namun, kondisi ini dapat diatasi dengan kembali menerapkan nutrisi yang tepat. 

Anak-anak dengan kwashiorkor, sejenis malnutrisi parah, memiliki pemecahan lemak yang kurang efisien dibandingkan anak-anak dengan marasmus. Meskipun demikian, kemampuan hati untuk menghilangkan asam tetap tidak terpengaruh. 

Kekurangan gizi juga dapat mengganggu fungsi hati lainnya, seperti kemampuan untuk memetabolisme xenobiotik, memetabolisme galaktosa, dan mengatur kadar C-reactive protein (CRP) pada anak-anak yang terinfeksi.

Tes fungsi hati kuantitatif sangat berharga dalam memantau efek intervensi nutrisi pada fungsi hati. Namun tes ini tidak dapat membedakan apakah hilangnya fungsi hati disebabkan oleh berkurangnya massa jaringan liver atau kekurangan nutrisi. Oleh karena itu, diperlukan tes sederhana yang dapat mengidentifikasi pasien yang akan mendapat manfaat dari intervensi nutrisi. Tes vitamin K intravena (IV), yang memperkirakan manfaat potensial dari dukungan nutrisi pada masing-masing pasien, berpotensi memenuhi tujuan ini.

Obesitas dan Penyakit Hati

Pada tahun 1970an, perubahan degeneratif sementara dengan nekrosis fokal diamati pada orang dengan obesitas yang mengalami kelaparan total, diet penurunan berat badan, atau bypass usus kecil. Hal ini menunjukan terdapat indikasi hubungan antara kegemukan dan perlemakan hati.

Penyakit hati dapat diakibatkan oleh konsumsi alkohol (alcoholic liver disease) atau tanpa konsumsi alkohol (non-alcoholic steatohepatitis/ (NASH). NASH umumnya disebabkan oleh resistensi insulin dan obesitas, mempengaruhi 20% populasi Eropa. Pasien NASH tidak memiliki pola makan yang seragam, namun beberapa riset menunjukan bahwa hal ini diakibatkan oleh peningkatan konsumsi lemak dan asam lemak n-6, karbohidrat, dan energi. Konsumsi fruktosa yang tinggi dari sirup jagung, seperti yang digunakan dalam minuman ringan, bertanggung jawab atas resistensi insulin.

Kehadiran NASH pada pasien obesitas dapat diprediksi berdasarkan indeks massa tubuh (BMI) dan total lemak tubuh. NASH didiagnosis pada 40% pasien yang menjalani operasi bariatrik, dengan kisaran 24-98%. Obesitas memainkan peran penting dalam NASH, dan penurunan berat badan yang dicapai melalui konseling diet, operasi bariatrik, atau pengobatan obat berpotensi meringankan atau bahkan menyembuhkan NASH.

Penyakit hati akut dapat menimbulkan dampak yang berbeda-beda pada proses metabolisme pasien, tergantung pada tingkat keparahan kondisinya. Misalnya, pada kasus gagal hati akut, mungkin terjadi perubahan signifikan pada metabolisme karbohidrat dan protein. Sejauh mana penyakit ini mempengaruhi status gizi pasien akan bergantung pada berapa lama mereka mengidap penyakit tersebut dan apakah mereka mempunyai penyakit hati kronis yang mungkin telah mempengaruhi status gizi mereka. 

Pasien dengan gagal hati hiperakut dapat tiba-tiba menderita penyakit fulminan yang dapat menyebabkan pemulihan spontan, transplantasi hati, atau kematian dalam beberapa hari. Di sisi lain, penderita gagal hati subakut mempunyai risiko lebih besar mengalami malnutrisi dan perubahan komposisi tubuh yang parah dalam jangka waktu lama.

Penderita sirosis sering menderita kombinasi malnutrisi energi protein, yang mencakup ciri-ciri malnutrisi mirip kwashiorkor dan marasmus. Tingkat keparahan dan prevalensi malnutrisi bergantung pada stadium klinis penyakit hati kronis, dengan kemungkinan malnutrisi meningkat dari 20% pasien dengan penyakit dengan kompensasi baik menjadi lebih dari 60% pasien dengan insufisiensi hati berat. 

Penurunan masa protein tubuh sering terjadi pada pasien dengan penyakit hati dan dapat menyebabkan sarkopenia, hal yang dapat mengganggu fungsi dan kelangsungan hidup. Untuk itu, mengelola komplikasi seperti hipertensi portal dan memberikan nutrisi yang cukup dapat membantu pasien pulih dari hilangnya massa sel tubuh. 

Pecandu alkohol lebih rentan mengalami malnutrisi akibat gaya hidup tidak sehat dan kondisi sosial ekonomi rendah. Penderita sirosis yang dirawat di rumah sakit mungkin menderita kelelahan, mengantuk, dan disfungsi psikomotorik, yang dapat menyebabkan tidak cukupnya aliran gizi ke otak bahkan tanpa adanya ensefalopati hepatik.

Untuk mendapatkan materi lebih lanjut, bergabunglah dengan Kelas Diet untuk Penyakit Hati yang tersedia di Udemy. Gunakan tautan pada gambar berikut.

Oleh Harry Freitag LM, S.Gz, M.Sc, RD, PhD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *