Siapa yang Sebenarnya Membutuhkan Suplemen Kalsium?
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Banyak orang mengenal susu sebagai sumber kalsium utama. Padahal, kalsium juga dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan lain seperti ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Namun, apakah mengonsumsi makanan yang mengandung kalsium selalu berarti kebutuhan tubuh akan kalsium sudah tercukupi?
Jawabannya belum tentu. Kandungan kalsium dalam makanan tidak selalu sama dengan jumlah kalsium yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pada kondisi tertentu seseorang dapat memerlukan suplementasi kalsium.
Kalsium Dapat Diperoleh dari Berbagai Bahan Makanan
Sumber kalsium tidak hanya berasal dari susu. Beberapa bahan makanan lain yang juga mengandung kalsium antara lain:
- Susu
- Ikan
- Kacang-kacangan
- Biji-bijian
Namun, terdapat perbedaan penting antara sumber hewani dan sumber nabati. Pada bahan pangan nabati seperti kacang-kacangan dan biji-bijian, proses pencernaan dan penyerapan kalsium cenderung lebih sulit sehingga jumlah kalsium yang akhirnya dapat dimanfaatkan tubuh menjadi lebih sedikit.
Tidak Semua Orang Membutuhkan Suplemen
Suplementasi bukan berarti harus diberikan kepada semua orang. Pada individu dengan pola makan yang baik dan kecukupan zat gizi yang optimal, suplementasi mungkin tidak diperlukan.
Sebaliknya, terdapat kelompok dengan risiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat gizi sehingga memerlukan tambahan dalam bentuk suplemen. Contohnya adalah:
- Ibu hamil yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi sehingga sering mendapatkan tablet tambah darah.
- Balita yang memperoleh suplementasi vitamin A melalui program pemerintah sebanyak dua kali dalam setahun.
Prinsip yang sama juga berlaku pada kalsium. Suplementasi diberikan apabila memang terdapat risiko kekurangan atau kondisi tertentu yang menyebabkan kebutuhan tidak dapat dipenuhi hanya dari makanan.
Mengapa Kebutuhan Kalsium Sulit Dipenuhi?
Dalam praktik penyusunan menu, sering kali kebutuhan kalsium sulit dipenuhi pada kelompok tertentu. Meskipun kebutuhan sudah dihitung berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG), pilihan bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari sering kali belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Salah satu penyebabnya adalah pola konsumsi masyarakat. Beberapa makanan yang relatif tinggi kalsium, seperti:
- Keju
- Yogurt
- Susu
belum tentu menjadi makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Ikan juga mengandung kalsium yang cukup baik dibandingkan beberapa jenis lauk lainnya. Namun, frekuensi konsumsi ikan pada sebagian masyarakat masih belum cukup tinggi sehingga asupan kalsium tetap kurang.
Kandungan Kalsium Belum Tentu Sama dengan yang Diserap Tubuh
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap seluruh kandungan kalsium dalam makanan akan masuk ke dalam tubuh.
Padahal, prosesnya jauh lebih kompleks.
Ketika suatu makanan mengandung kalsium, mineral tersebut masih harus dilepaskan terlebih dahulu dari molekul pengikatnya selama proses pencernaan. Pada bahan pangan nabati terdapat senyawa fitat yang dapat mengikat berbagai mineral, termasuk kalsium.
Akibatnya, hanya sebagian kalsium yang dapat dilepaskan dan tersedia untuk diserap oleh usus.
Penyerapan Kalsium Dipengaruhi Oleh Usus dan Hormon
Setelah kalsium dilepaskan dari makanan, proses berikutnya adalah penyerapan di usus.
Penyerapan ini berlangsung secara aktif. Tidak seluruh kalsium yang tersedia otomatis masuk ke dalam tubuh. Sel-sel usus harus mengambil dan menyerap kalsium tersebut.
Kemampuan penyerapan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah hormon.
Peran Vitamin D dalam Pengaturan Kalsium
Vitamin D memiliki peran penting dalam metabolisme kalsium karena setelah diaktifkan, vitamin ini bekerja sebagai hormon yang membantu mengatur aliran kalsium di dalam tubuh.
Perannya meliputi:
- membantu penyerapan kalsium di saluran pencernaan,
- mengatur perpindahan kalsium ke berbagai jaringan tubuh,
- mendukung distribusi kalsium menuju tulang.
Dengan demikian, kecukupan vitamin D menjadi bagian penting dalam proses pemanfaatan kalsium oleh tubuh.
Apa yang Terjadi Jika Tubuh Kekurangan Kalsium?
Apabila seseorang memiliki risiko kekurangan kalsium dan kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka risiko gangguan pada kesehatan tulang dapat meningkat.
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah osteoporosis. Tulang yang rapuh akan lebih mudah mengalami patah tulang ketika terjadi benturan atau jatuh.
Dalam pembahasan mengenai nutrigenetik, juga dijelaskan bahwa kemampuan tubuh dalam mengatur metabolisme kalsium dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Salah satu penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2025 oleh tim peneliti di Mexico City membahas hubungan varian gen GC dengan kejadian osteoporosis pada wanita. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada sebagian individu terdapat risiko yang lebih tinggi terhadap gangguan metabolisme kalsium.
Jika ingin mempelajari lebih dalam mengenai bagaimana faktor genetik dapat memengaruhi kebutuhan kalsium, mengapa sebagian orang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan kalsium, serta bagaimana gen berhubungan dengan kesehatan tulang, pembahasan tersebut dijelaskan secara khusus pada Chapter 18 buku Aplikasi Nutrigenetik. Buku ini membahas penerapan nutrigenetik dalam berbagai kondisi secara praktis sehingga membantu pembaca memahami hubungan antara variasi genetik dan kebutuhan zat gizi. Informasi lebih lanjut mengenai buku dapat dilihat melalui halaman Aplikasi Nutrigenetik di Gizi Gama.



Leave a Reply