Mengapa Kebutuhan Gizi Senior Berbeda? Memahami Kalori, Mortalitas, dan Proses Penuaan

Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien

Kebutuhan Kalori Menurun Seiring Bertambahnya Usia

Salah satu perubahan yang terjadi selama proses penuaan adalah menurunnya kebutuhan energi. Hal ini dapat dilihat pada berbagai rumus perhitungan kebutuhan energi, seperti persamaan Harris-Benedict, di mana usia menjadi faktor yang menurunkan kebutuhan metabolisme. Artinya, semakin bertambah usia seseorang, kebutuhan kalorinya menjadi lebih sedikit.

Kondisi ini menjelaskan mengapa seseorang yang berusia lebih tua cenderung lebih mudah mengalami peningkatan berat badan meskipun mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan orang yang lebih muda. Kebutuhan energi memang menurun, tetapi kebutuhan zat gizi tetap harus dipenuhi.

Kebutuhan Zat Gizi Tetap Tinggi

Walaupun kebutuhan kalori berkurang, kebutuhan berbagai zat gizi justru tetap tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan dalam pemenuhan gizi pada senior karena tidak selalu memungkinkan untuk meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi hanya untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tertentu, terutama zat gizi mikro.

Dalam kondisi tertentu, fortifikasi maupun suplementasi dapat menjadi salah satu strategi untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi. Pendekatan ini bertujuan mengurangi risiko terjadinya defisiensi zat gizi akibat keterbatasan asupan makanan.

Definisi Senior Berbeda pada Berbagai Organisasi

Di Indonesia, kelompok senior umumnya didefinisikan sebagai individu yang berusia 60 tahun atau lebih. Sementara itu, beberapa organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menggunakan batas usia 65 tahun.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan berbagai faktor, salah satunya adalah angka harapan hidup pada masing-masing negara. Oleh karena itu, batas usia yang digunakan dapat berbeda sesuai dengan sistem yang berlaku.

Pola Makan Berhubungan dengan Mortalitas

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2011 oleh Anderson dan rekan-rekan meneliti pola makan sekitar 3.000 orang dan mengamati hubungan antara jenis makanan yang dikonsumsi dengan risiko mortalitas.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi sayuran, buah-buahan, whole grain, ayam, ikan, serta susu rendah lemak berkaitan dengan risiko mortalitas yang lebih rendah. Sebaliknya, konsumsi daging merah, makanan manis, gorengan, minuman tinggi kalori, serta penambahan lemak berkaitan dengan risiko mortalitas yang lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa pola makan memiliki hubungan dengan tingkat mortalitas.

Populasi Senior Terus Meningkat

Jumlah populasi senior terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring meningkatnya angka harapan hidup. Secara global, proporsi populasi senior meningkat dari sekitar 5% pada tahun 1960 menjadi sekitar 8% pada tahun 2015.

Di Indonesia, jumlah penduduk senior juga terus bertambah. Diperkirakan pada tahun 2025 jumlah penduduk seniormencapai sekitar 33 juta jiwa atau sekitar 11,8% dari total populasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok seniormenjadi kelompok usia yang membutuhkan perhatian khusus, sebagaimana balita dan anak-anak.

Peningkatan jumlah populasi senior juga menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan kesehatan, pelayanan gizi, serta berbagai sistem pendukung yang berkaitan dengan proses penuaan.

Teknologi Meningkatkan Angka Harapan Hidup

Perkembangan teknologi kesehatan memberikan kontribusi terhadap meningkatnya angka harapan hidup. Berbagai intervensi medis memungkinkan individu dengan penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan tetap dapat bertahan hidup lebih lama.

Kemajuan teknologi pada penanganan penyakit jantung, stroke, diabetes, dan berbagai penyakit kronis lainnya membuat semakin banyak individu dapat hidup lebih panjang meskipun memiliki penyakit yang menyertai.

Perkembangan Menuju Anti-Aging Intervention

Perkembangan di bidang kesehatan tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan penyakit. Saat ini mulai berkembang pendekatan anti-aging intervention, yaitu berbagai upaya yang bertujuan memperlambat proses penuaan.

Harapannya, berbagai penyakit yang berkaitan dengan usia dapat muncul pada usia yang lebih lanjut sehingga seseorang dapat mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik dalam waktu yang lebih panjang.

Buku Gizi untuk Lanjut Usia merupakan panduan komprehensif yang membahas perubahan fisiologis akibat proses penuaan serta implikasinya terhadap kebutuhan gizi pada senior. Buku ini mengulas berbagai topik penting, mulai dari perubahan metabolisme, kebutuhan zat gizi makro dan mikro, pencegahan serta penatalaksanaan masalah gizi seperti osteoporosis, frailty, sarcopenia, obesitas, hingga penurunan fungsi kognitif. Selain menjelaskan dasar ilmiah yang berbasis bukti, buku ini juga menyajikan contoh menu, rekomendasi praktis, dan strategi pemenuhan gizi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini menjadi referensi bagi mahasiswa, dosen, tenaga kesehatan, pendamping senior, maupun masyarakat yang ingin memahami bagaimana menjaga kesehatan, fungsi tubuh, dan kualitas hidup pada usia lanjut melalui intervensi gizi yang tepat. Informasi mengenai buku ini dapat dilihat pada halaman resmi Gizi untuk Lanjut Usia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts