Mengenal Non-Celiac Gluten Sensitivity (NCGS): Gejala dan Solusinya
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Gluten merupakan salah satu jenis protein yang terdapat dalam gandum. Pada sebagian orang, gluten dapat berinteraksi dengan sistem imun karena tubuh mengalami kesulitan dalam memecah protein tersebut. Kondisi yang berkaitan dengan konsumsi gluten tidak hanya berupa celiac disease, tetapi juga dapat berupa Non-Celiac Gluten Sensitivity (NCGS) atau yang sering disebut sebagai gluten intolerance.
Apa Itu Non-Celiac Gluten Sensitivity?
Celiac disease merupakan kondisi ketika sistem imun menyerang sel usus yang menangkap gluten. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan struktur usus, menurunkan penyerapan zat gizi, dan pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup seseorang. Diperkirakan sekitar 1% orang mengalami celiac disease, yang dikenal sebagai salah satu penyakit autoimun.
Namun, gangguan saluran cerna yang berhubungan dengan konsumsi gluten tidak hanya celiac disease. Salah satunya adalah Non-Celiac Gluten Sensitivity (NCGS). Kondisi ini tidak separah celiac disease, tetapi tetap dapat menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah NCGS diperkenalkan oleh para pakar pada tahun 2011. NCGS didefinisikan sebagai kondisi non-alergen dan non-autoimun ketika konsumsi gluten menimbulkan gejala yang serupa dengan celiac disease.
Apa Saja Gejala NCGS?
Gejala NCGS dapat muncul pada saluran pencernaan. Beberapa gejala yang dapat dialami antara lain:
- Diare
- Nyeri perut
- Bloating atau kembung
- Konstipasi
- Mual
- Muntah
Masalah NCGS juga tidak hanya berkaitan dengan sistem pencernaan. Infografis tersebut mencantumkan beberapa gejala lain seperti pusing, migrain, foggy mind, lemah, dan perubahan psikologis.
Faktor Genetik dan Mikrobiota Usus
Variasi genetik juga disebut berperan dalam NCGS. Variasi pada gen HLA-DR4 dan HLA-DR2 berhubungan dengan risiko NCGS yang lebih tinggi. Selain itu, profil mikrobiota usus yang buruk juga dapat meningkatkan risiko NCGS.
Hal ini menunjukkan bahwa respons seseorang terhadap gluten dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk variasi genetik dan kondisi mikrobiota saluran cerna.
Bagaimana Solusi untuk NCGS?
Pilihan makanan yang mengandung gluten perlu diperhatikan, termasuk roti, kue, pastry, mi, pasta, burger, dan pizza. Untuk makanan seperti tempe, tahu, atau ayam yang digoreng, penggunaan tepung juga dapat dihindari. Makanan dalam kemasan juga disarankan untuk dihindari.
Selain menghindari sumber gluten, infografis juga menekankan pentingnya mengoptimalkan saluran pencernaan. Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi makanan atau minuman probiotik maupun suplemen probiotik. Bakteri saluran cerna yang baik disebut dapat membantu mencerna gluten sehingga risiko NCGS dapat dikurangi.

Mengenal NCGS Lebih Dekat
Non-Celiac Gluten Sensitivity merupakan kondisi yang berbeda dari celiac disease. NCGS digambarkan sebagai kondisi non-alergen dan non-autoimun yang dapat menimbulkan gejala serupa celiac disease setelah konsumsi gluten. Gejalanya dapat melibatkan saluran pencernaan maupun keluhan lain seperti pusing, migrain, foggy mind, lemah, dan perubahan psikologis.
Memahami hubungan antara gluten, gejala pencernaan, faktor genetik, dan kondisi mikrobiota usus dapat membantu mengenali NCGS dengan lebih baik.
Memahami respons tubuh terhadap gluten menunjukkan bahwa kebutuhan dan respons seseorang terhadap makanan tidak selalu sama. Faktor genetik dan kondisi mikrobiota dapat berperan dalam menentukan bagaimana tubuh merespons zat gizi dan komponen makanan tertentu.
Lalu, bagaimana kita dapat memahami hubungan antara gen, makanan, dan respons tubuh secara lebih mendalam? Di sinilah konsep nutrigenetik menjadi penting. Nutrigenetik membantu kita melihat bahwa pendekatan gizi tidak selalu dapat disamaratakan, karena variasi genetik dapat memengaruhi respons seseorang terhadap makanan dan zat gizi.
Untuk mempelajari bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan dalam praktik, buku Aplikasi Nutrigenetik hadir sebagai referensi untuk memahami penerapan nutrigenetik dalam konteks ilmu gizi dan kesehatan.



Leave a Reply