Panduan Gizi untuk Lanjut Usia: Antropometri, Pola Makan, Protein, dan Vitamin B12

Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien

Dalam rangkaian penilaian gizi pada senior, penting untuk memanfaatkan beberapa metode pengukuran. Salah satunya dimulai dari pemeriksaan antropometri.

Pemeriksaan antropometri dapat dilakukan dengan melihat BMI atau indeks massa tubuh, yaitu dengan membagi berat badan dengan kuadrat tinggi badan, kemudian melihat status gizinya.

Namun, pemeriksaan tidak berhenti pada pengukuran BMI. Skrining juga perlu dilakukan, terutama pada pasien atau klien baru, untuk melihat apakah terdapat masalah yang berkaitan dengan status gizi.

Skrining dan Identifikasi Masalah Gizi

Setelah dilakukan skrining, misalnya menggunakan NSI, dan masalah gizi berhasil diidentifikasi, barulah manajemen dapat direncanakan.

Konsultasi gizi tidak hanya dilakukan pada pasien atau klien yang sudah memiliki masalah. Konsultasi juga dapat diberikan kepada pasien yang status gizinya masih baik dan risiko mengalami malnutrisinya tidak tinggi.

Dengan melakukan skrining dan identifikasi masalah, proses perencanaan manajemen menjadi lebih terarah. Dari hasil tersebut dapat ditentukan apa yang perlu dilakukan dan rekomendasi yang dapat diberikan kepada senior.

MyPlate untuk Lanjut Usia

Terdapat MyPlate yang dikembangkan oleh Tufts University dan didesain khusus untuk senior. Bentuknya sedikit berbeda dengan MyPlate versi Indonesia.

Dalam MyPlate tersebut terdapat cairan dan buah. Pemilihan bahan makanan juga dapat mencakup sebagian bahan makanan yang dikalengkan atau frozen.

Setengah porsi piring terdiri dari sayuran dan buah. Setengah bagian lainnya berisi serealia dan protein. Selain itu, terdapat minyak yang lebih sehat, produk olahan susu, dan cairan.

Serealia untuk Lanjut Usia

Serealia yang direkomendasikan antara lain whole grain dan fortified.

Ketika membeli sereal, tepung, atau roti, dapat dilihat apakah makanan tersebut merupakan whole grain dan apakah makanan tersebut terfortifikasi.

Pada senior, kebutuhan energi berkurang tetapi kebutuhan zat gizi meningkat. Karena itu, diperlukan solusi dengan memilih bahan makanan yang volumenya tidak besar tetapi memiliki kandungan zat gizi yang tinggi.

Serealia dapat menjadi salah satu pilihan karena mengandung beberapa jenis vitamin B. Whole grain masih mempertahankan sebagian bulirnya dan tidak diputihkan atau dihilangkan seluruhnya sehingga tetap memiliki kandungan zat gizi, termasuk serat.

Susu dan Produk Olahan Susu

Senior disarankan untuk mencukupi kebutuhan susu dan produk olahan susu.

Hal ini menarik jika dilihat dari konteks orang Indonesia karena konsumsi susu dapat menjadi sesuatu yang kontroversial. Namun, rekomendasi mengenai susu berkaitan dengan kandungan kalsium, protein, dan beberapa zat lainnya.

Minyak yang Lebih Sehat

Dalam pola makan untuk senior, minyak juga menjadi salah satu bagian yang diperhatikan.

Minyak yang digunakan dalam pengolahan makanan dipilih yang relatif lebih sehat.

Bumbu dan Rempah

Pada senior terjadi penurunan pengecapan dan penciuman. Dengan adanya bumbu dalam jumlah yang lebih banyak, nafsu makan dapat meningkat.

Namun, peningkatan penggunaan bumbu tersebut tetap diupayakan tanpa meningkatkan natrium atau sodium.

Protein yang Kaya

Protein dapat berasal dari daging, ikan, daging putih, kacang-kacangan, dan polong-polongan.

Senior memerlukan protein yang cukup untuk mempertahankan massa otot. Pada senior terjadi keseimbangan nitrogen yang buruk dan penurunan proses anabolisme sehingga banyak protein yang akhirnya terbuang.

Karena itu, kebutuhan protein perlu disuplai untuk mencukupi atau mengganti protein yang terbuang.

Salah satu solusinya adalah memilih makanan yang kaya protein tetapi tidak tinggi lemak jenuh, misalnya ikan atau protein dari kedelai yang terfortifikasi.

Sayuran dan Buah-buahan

Sayuran dan buah-buahan merupakan bagian penting dari pola makan. Sayur dan buah mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan yang dibutuhkanย seniorย untuk tetap sehat.

Terdapat hal menarik mengenai rekomendasi konsumsi makanan kalengan atau makanan beku. Bahan makanan tersebut dapat digunakan dengan beberapa catatan.

Misalnya, jika produk mengandung gula, gulanya dapat ditiriskan terlebih dahulu dan tidak sekaligus diminum bersama air gulanya. Makananย frozenย juga dapat menjadi pilihan karena lebih mudah dalam proses pengolahannya.

Hal ini terutama dapat membantu senior yang hidup sendiri atau hanya berdua dengan pasangan dan perlu mempersiapkan makanan sendiri.

Buah-buahan beku dapat menjadi solusi karena proses pengolahannya relatif lebih mudah. Tidak perlu mengupas atau memotong bahan makanan sehingga dapat menghemat energi dan waktu.

Waktu dan energi tersebut dapat digunakan untuk melakukan aktivitas lain atau beristirahat.

Aktivitas Sosial pada Lanjut Usia

Aktivitas juga perlu diperhatikan karena ketika tidak ada aktivitas, tidak sedikit senior yang akhirnya mengalami stres.

Beberapa lembaga masyarakat atau kelompok arisan dapat membentuk kelompok bagi senior. Misalnya kelompok yang berada di sekitar rumah, kompleks, atau bagian dari persaudaraan.

Kegiatan dapat dilakukan melalui perjalanan, berkumpul, makan bersama, dan berbagi.

Hal tersebut menjadi penting karena seiring berkembangnya zaman, terutama di perkotaan, kondisi seperti ini menjadi semakin sulit ditemukan.

Senior yang tinggal di kota-kota besar dapat mengalami isolasi. Hal ini dapat berkaitan dengan struktur sosial di perkotaan, jarak dari keluarga, atau berbagai faktor lainnya.

Karena itu, senior dapat menjadi lebih sosial dan berinteraksi satu sama lain agar memiliki kesehatan mental yang baik.

Kondisi sosial dapat memengaruhi kesehatan. Interaksi dengan orang lain menjadi salah satu hal yang penting bagi senior.

Vitamin B12 pada Lanjut Usia

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami penurunan kemampuan dalam menyerap zat gizi. Salah satunya adalah penyerapan vitamin B12.

Vitamin B12 menjadi perhatian karena berinteraksi dengan beberapa faktor dalam saluran pencernaan. Ketika sumber vitamin B12 dikonsumsi, faktor tersebut akan menentukan apakah dan seberapa banyak vitamin B12 yang dapat diserap.

Seiring dengan penuaan, faktor yang meningkatkan penyerapan B12 semakin berkurang. Karena itu, diperlukan lebih banyak makanan yang kaya akan vitamin B12.

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi vitamin B12 adalah protein. Dengan mencukupi kebutuhan protein, terutama melalui makanan yang terfortifikasi, asupan B12 dapat ditingkatkan.

Vitamin B12 banyak terdapat pada bahan-bahan makanan hewani.

Apakah Lanjut Usia Memerlukan Suplemen?

Suplemen dapat diperlukan oleh senior untuk mencukupi kebutuhan, dengan catatan bahwa penggunaannya ditujukan untuk senior yang berisiko mengalami kekurangan gizi.

Sebelumnya perlu dilakukan asesmen terhadap senior untuk menentukan kelompok yang memiliki risiko defisiensi tinggi dan defisiensi tersebut berkaitan dengan zat gizi apa.

Dalam konteks ini, perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah seorang klien memerlukan suplemen.

Penggunaan suplemen diharapkan bersifat personal. Dua orang yang memiliki masalah yang sama belum tentu mendapatkan kebutuhan suplemen yang sama.

Pelajari Lebih Lanjut tentang Gizi untuk Lanjut Usia

Pembahasan mengenai gizi pada senior, termasuk proses asesmen dan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi risiko masalah gizi, dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku Gizi untuk Lanjut Usia. Buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami berbagai aspek gizi pada senior secara lebih lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts