Kebutuhan Energi dan Protein pada Lanjut Usia

Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien

Kebutuhan energi pada senior memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan. Dalam menentukan kebutuhan seseorang, terdapat kombinasi antara basal metabolic rate, aktivitas, dan faktor lainnya.

Ada tiga komponen penting yang mengatur basal metabolic rate, yaitu genetik, hormon, dan komposisi tubuh. Genetik dapat memengaruhi metabolisme, sementara komposisi tubuh juga berperan. Semakin tinggi massa otot, maka metabolic rate semakin meningkat. Sebaliknya, ketika massa otot semakin rendah, metabolic rate semakin berkurang.

Kebutuhan Energi pada Lanjut Usia

Salah satu hal yang menarik mengenai kebutuhan energi senior adalah kebutuhan energinya lebih rendah. BMR dapat bervariasi dari 1.000 hingga 2.000 kilokalori per hari, tergantung pada status gizi klien.

Dalam menentukan kebutuhan energi, biasanya digunakan formula seperti Harris-Benedict atau Mifflin. Namun, terdapat hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan formula tersebut pada senior.

Formula Harris-Benedict dikembangkan dengan menggunakan kelompok orang yang tidak secara khusus terdiri dari senior. Demikian pula dengan formula Mifflin, meskipun melibatkan senior, kelompok senior yang digunakan tidak spesifik. Karena itu, pengukuran kebutuhan energi dengan formula tersebut tidak benar-benar dapat menjelaskan kebutuhan energi seseorang pada usia lanjut.

Kemudian dikembangkan formula yang didesain untuk senior. Formula tersebut dibentuk melalui penelitian dan menggunakan beberapa parameter yang dapat menjadi penanda kebutuhan energi.

Pengukuran Komposisi Tubuh pada Lanjut Usia

Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah chest skinfold thickness. Pemeriksaan dilakukan pada bagian dada secara diagonal, yaitu di antara anterior axillary line atau wilayah ketiak dan puting.

Bagian tersebut kemudian diambil dan diukur menggunakan kaliper. Hasil pengukuran dinyatakan dalam milimeter.

Pengukuran seperti ini menjadi bagian dari hal-hal yang dapat diperhatikan ketika melakukan penilaian pada senior.

Kebutuhan Karbohidrat dan Serat

Karbohidrat juga menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan. Beberapa sumber menyebutkan variasi konsumsi karbohidrat antara 45 hingga 65% dari total energi masih aman. Selain jumlah karbohidrat, serat menjadi komponen yang krusial padaย senior. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan adanya masalah pada saluran pencernaan.

Salah satu solusinya adalah memilih makanan yang lebih beragam. Contohnya adalah nasi dari beras cokelat dan roti whole grain atau roti gandum.

Pada makanan whole grain, bagian bulir masih dipertahankan dan tidak seluruhnya dibersihkan dari bagian gandum sehingga tetap memiliki kandungan zat gizi dan serat.

Target serat yang disebutkan adalah 14 gram per 1.000 kilokalori. Dengan kebutuhan energi 2.000 kilokalori, kebutuhan seratnya menjadi 28 gram.

Kebutuhan Protein pada Lanjut Usia

Protein menjadi salah satu komponen penting yang perlu diperhatikan pada senior.

Standar protein yang sering digunakan adalah 0,8 sampai 1 gram per kilogram berat badan. Beberapa pakar menyarankan kebutuhan protein pada senior menjadi 1 gram per kilogram berat badan. Jadi, kebutuhan protein tidak diturunkan, tetapi justru dapat dinaikkan.

Hal tersebut berkaitan dengan risiko senior mengalami malnutrisi protein atau kekurangan protein.

Dalam proses penuaan terjadi gangguan pada anabolisme dan peningkatan katabolisme. Katabolisme yang meningkat dapat menyebabkan tubuh kehilangan protein dan asam amino. Jika asam amino tersebut tidak diganti, simpanan protein dalam tubuh akan berkurang.

Ketika simpanan protein berkurang, status gizi dan massa otot juga dapat berkurang.

Namun, kebutuhan 1 gram protein per kilogram berat badan tidak dapat diterapkan pada semua klien. Tetap diperlukan rangkaian pertanyaan untuk menentukan kebutuhan setiap individu.

Langkah awal adalah menghitung kebutuhan energi dan kebutuhan protein. Setelah mengetahui berapa banyak energi dan protein yang dibutuhkan, dilakukan recall untuk melihat apakah terdapat defisit energi maupun defisit protein.

Pentingnya Memeriksa Asupan Energi dan Protein

Dalam melakukanย recall, informasi dapat diperoleh dariย seniorย sendiri, penunggu, anak, atau saudara yang dapat diwawancarai. Yang perlu diperiksa bukan hanya apakah asupan proteinnya cukup, tetapi juga apakah kebutuhan energinya terpenuhi.

Ketika tubuh kekurangan energi, salah satu konsekuensinya adalah tubuh dapat memanfaatkan protein sebagai sumber energi. Kondisi tersebut kemudian dapat mengarah pada sarcopenia atau facial wasting, yaitu penurunan jumlah atau simpanan protein dalam otot.

Selain jumlah protein, kualitas protein juga perlu diperhatikan. Jika seseorang mengonsumsi protein, perlu dilihat bagaimana kualitas dan nilai biologis protein tersebut.

Strategi Diet pada Lanjut Usia

Setelah melakukan asesmen, perlu ditentukan masalah kesehatan, masalah gizi, dan strategi diet yang sesuai.

Beberapa komponen diet yang penting untuk disampaikan kepada senior adalah sayur dan buah. Setengah dari porsi makanan dapat berupa sayur dan buah. Hal ini berkaitan dengan kondisi senior yang mengalami peningkatan kebutuhan zat gizi tetapi penurunan kebutuhan energi. Karena itu, pilihan makanan perlu lebih padat zat gizi.

Pilihan makanan juga dapat dibuat lebih bervariasi berdasarkan warna. Pada senior dengan kemampuan mengolah makanan yang rendah, makanan kaleng atau makanan frozen dapat menjadi pilihan karena dapat dikonsumsi dengan cara yang lebih cepat.

Asupan kalori tetap perlu diperhatikan. Selain itu, garam tidak perlu diletakkan di atas meja agar tidak mudah tergoda untuk menambahkan garam saat makan.

Bumbu-bumbu yang dapat meningkatkan cita rasa juga dapat digunakan. Pilihan lemak perlu diperhatikan, termasuk memilih lemak yang lebih baik dan tinggi MUFA. Protein, susu, dan beberapa komponen lainnya juga menjadi bagian dari strategi diet.

Namun, strategi tersebut masih bersifat umum karena sebagianย seniorย dapat mengalami masalah gizi tertentu. Karena itu, kondisi masing-masing menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan rekomendasi zat gizi.

Pelajari Lebih Lanjut tentang Gizi untuk Lanjut Usia

Pembahasan mengenai gizi pada senior, termasuk proses asesmen dan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi risiko masalah gizi, dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku Gizi untuk Lanjut Usia. Buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami berbagai aspek gizi pada senior secara lebih lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts