Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien

Artificial intelligence (AI) semakin banyak digunakan dalam bidang kesehatan, termasuk untuk membantu program penurunan berat badan. Pertanyaannya kemudian menjadi semakin menarik: apakah AI benar-benar efektif untuk membantu menurunkan berat badan? Dan apakah teknologi ini pada akhirnya dapat menggantikan pekerjaan dietisien?

Sejumlah penelitian terbaru mulai memberikan gambaran mengenai kemampuan AI dalam membantu weight management. Hasilnya cukup menjanjikan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa AI masih memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan.

AI untuk Weight Loss: Apakah Benar-Benar Efektif?

Salah satu penelitian yang menarik dipublikasikan oleh Khokhar dan kolega dalam Obesity Surgery pada 2024 dengan judul Weight Loss with an AI-Powered Digital Platform for Lifestyle Intervention.

Penelitian tersebut mengevaluasi platform digital berbasis AI yang menggabungkan aplikasi, timbangan yang terhubung dengan internet, dan sistem AI untuk memberikan panduan individual dalam pengelolaan berat badan. Penelitian dilakukan pada 391 peserta dengan rentang BMI yang cukup luas selama 24 minggu.

Hasilnya menarik. Rata-rata penurunan berat badan mencapai 14% dari berat badan awal, dengan rentang penurunan sekitar 4โ€“22%. Hampir seluruh peserta, sekitar 99%, mengalami penurunan berat badan sedikitnya 5%.

Temuan ini menunjukkan bahwa AI dan teknologi digital memiliki potensi untuk menjadi bagian dari strategi pengelolaan obesitas.

Namun, hasil tersebut sebaiknya tidak langsung diartikan bahwa AI adalah pengganti tenaga profesional. Penelitian tersebut mengevaluasi sebuah platform intervensi digital tertentu dalam konteks penelitian, bukan membandingkan secara langsung AI dengan dietisien dalam seluruh aspek pelayanan gizi.

AI Tidak Hanya Membuat Meal Plan

Kemampuan AI dalam weight management sebenarnya tidak berhenti pada pembuatan menu.

Penelitian Khokhar et al. menunjukkan penggunaan AI sebagai bagian dari sistem intervensi gaya hidup yang memberikan panduan individual dan membantu pemantauan berat badan. Dengan demikian, AI dapat digunakan untuk mendukung proses yang lebih luas daripada sekadar menghitung kalori.

Hal ini penting karena penurunan berat badan bukan hanya persoalan โ€œberapa kalori yang harus dimakan?โ€

Keberhasilan program juga dipengaruhi oleh perilaku makan, aktivitas fisik, kemampuan mempertahankan perubahan gaya hidup, serta respons individu terhadap intervensi.

Bagaimana Jika AI Diminta Membuat Diet Plan?

Pertanyaan berikutnya adalah apakah meal plan yang dibuat AI memiliki kualitas yang setara dengan diet yang dibuat manusia.

Pertanyaan ini secara khusus diteliti oleh Kim et al. dalam Frontiers in Nutrition pada 2024 melalui penelitian berjudul Qualitative Evaluation of Artificial Intelligence-Generated Weight Management Diet Plans.

Peneliti menggunakan ChatGPT-4 untuk membuat rencana diet penurunan berat badan dan membandingkannya dengan dua rencana diet yang digunakan oleh pusat medis. Rencana tersebut kemudian dinilai secara blind oleh dokter, dietisien, dan nurse practitioners yang memiliki spesialisasi dalam obesitas atau nutrisi.

Hasilnya cukup menarik.

Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara ketiga rencana diet pada berbagai kategori penilaian, termasuk efektivitas, keseimbangan, kelengkapan, fleksibilitas, dan aplikabilitas. Bahkan, sebagian besar ahli tidak dapat membedakan mana rencana diet yang dibuat oleh AI.

Ini menunjukkan bahwa AI sudah mampu menghasilkan diet plan yang secara tampilan dan karakteristik tertentu dapat menyerupai diet plan yang digunakan dalam praktik klinis.

Tetapi, di sinilah bagian pentingnya.

AI Masih Memiliki Kelemahan dalam Menyusun Diet

Penelitian Kim et al. juga menemukan beberapa kelemahan pada diet plan yang dibuat AI.

Beberapa di antaranya adalah adanya pertimbangan diet yang saling bertentangan, masalah keterjangkauan makanan, dan kurangnya spesifikasi tertentu seperti ukuran porsi yang tepat. Para peneliti menyimpulkan bahwa penyempurnaan input diperlukan agar kualitas dan aplikabilitas diet plan AI dapat meningkat.

Temuan ini sangat penting dalam praktik.

Diet untuk seseorang dengan obesitas tidak selalu hanya terdiri dari:

Berat badan โ†’ kebutuhan energi โ†’ pembagian makronutrien โ†’ menu.

Kondisi kesehatan, preferensi makanan, budaya, kemampuan ekonomi, akses terhadap bahan makanan, obat yang digunakan, komorbiditas, kebiasaan makan, hingga kemampuan seseorang menjalankan diet dapat memengaruhi strategi yang dipilih.

Semakin kompleks kondisi klien, semakin penting konteks klinis dalam penyusunan intervensi.

AI Bahkan Bisa Membantu Mengubah Perilaku Makan

Kemampuan AI yang menarik lainnya adalah membantu perubahan perilaku makan.

Penelitian di Singapura yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Internet Research mengevaluasi Eating Trigger-Response Inhibition Program (eTRIP), sebuah aplikasi manajemen berat badan berbasis AI. Sistem tersebut menggunakan chatbot, pengenalan gambar makanan berbasis computer vision, serta time-based nudges untuk membantu pengguna mengenali pemicu perilaku makan.

Pada penelitian tersebut, terdapat 230 peserta yang mengikuti program selama 12 minggu. Peneliti menemukan perbaikan signifikan pada perilaku overeating, snacking, self-regulation of eating behavior, depresi, dan aktivitas fisik. Sementara itu, perubahan kecemasan tidak signifikan.

Ini memberikan perspektif yang menarik.

AI tidak hanya berpotensi membantu seseorang mendapatkan โ€œapa yang harus dimakanโ€, tetapi juga dapat membantu seseorang mengenali โ€œmengapa saya makan seperti ini?โ€

Jadi, Apakah AI Akan Menggantikan Dietisien?

Berdasarkan penelitian yang ada, jawabannya belum sesederhana ya atau tidak.

AI sudah menunjukkan kemampuan dalam beberapa tugas yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual, seperti menghasilkan diet plan, memberikan rekomendasi individual, melakukan pemantauan, mengenali pola makan, dan memberikan feedback secara digital. Penelitian tentang AI-generated diet plans bahkan menunjukkan bahwa hasil AI dapat dinilai sebanding dengan beberapa diet plan yang digunakan dalam praktik klinis.

Tetapi kemampuan menghasilkan output yang menyerupai pekerjaan manusia tidak sama dengan kemampuan menggantikan keseluruhan proses pelayanan gizi.

Dietisien tidak hanya menghasilkan menu.

Dietisien melakukan pengkajian, menginterpretasikan data, mengidentifikasi masalah gizi, mempertimbangkan kondisi klinis dan sosial, berkomunikasi dengan klien, melakukan behavior change, mengevaluasi respons terhadap intervensi, dan menyesuaikan strategi ketika kondisi berubah.

Dengan demikian, perkembangan AI justru dapat dilihat sebagai perubahan terhadap cara dietisien bekerja, bukan semata-mata hilangnya peran dietisien.

Masa Depan Manajemen Obesitas: Dietisien + AI?

Jika melihat berbagai penelitian tersebut secara bersama-sama, terdapat satu pola yang menarik.

AI memiliki potensi besar untuk melakukan pekerjaan yang bersifat data-driven, berulang, personalisasi berbasis data, dan monitoring. Sementara itu, manusia tetap memiliki peran penting dalam memahami konteks kompleks dan mengambil keputusan klinis.

Bahkan, tinjauan sistematis terbaru mengenai AI-enabled behavioral coaching pada obesitas menunjukkan bahwa berbagai platform AI telah dikaji dalam sejumlah desain penelitian, termasuk uji acak terkontrol dan studi observasional. Hasilnya menunjukkan potensi terhadap penurunan berat badan dan berbagai luaran metabolik, tetapi efektivitasnya tetap bervariasi antarplatform dan populasi.

Karena itu, pertanyaan yang mungkin lebih relevan bukan lagi:

โ€œApakah AI akan menggantikan dietisien?โ€

Melainkan:

โ€œBagaimana dietisien dapat menggunakan AI untuk memberikan pelayanan gizi yang lebih personal, efisien, dan berbasis bukti?โ€

AI Tidak Menghilangkan Kompleksitas Manajemen Obesitas

Penurunan berat badan bukan hanya persoalan membuat meal plan.

Hasil penelitian mengenai AI justru memperlihatkan bahwa teknologi dapat membantu berbagai bagian dari proses weight management, mulai dari penyusunan rekomendasi hingga perubahan perilaku. Namun, keterbatasan dalam mempertimbangkan konteks diet yang kompleks, keterjangkauan makanan, dan detail porsi menunjukkan bahwa kualitas intervensi tetap sangat bergantung pada bagaimana teknologi digunakan.

Karena itu, pemahaman mengenai manajemen obesitas secara komprehensif tetap menjadi dasar penting bagi tenaga gizi dan dietisien.

Pelajari Lebih Lengkap tentang Manajemen Obesitas

Perkembangan AI membuat praktik manajemen obesitas semakin menarik sekaligus semakin kompleks. Teknologi dapat membantu, tetapi tenaga profesional tetap membutuhkan pemahaman yang kuat mengenai mekanisme obesitas, asesmen, intervensi nutrisi, perubahan perilaku, dan monitoring.

Jika Anda ingin memperdalam pendekatan tersebut, buku Manajemen Obesitas dapat menjadi referensi untuk memahami obesitas tidak hanya dari sisi diet dan kalori, tetapi sebagai kondisi yang membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Baca selengkapnya tentang buku Manajemen Obesitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts