Mengapa Massa Otot Menurun Seiring Bertambahnya Usia?
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Massa Otot Menurun Selama Proses Penuaan
Selain jaringan lemak, proses penuaan juga menyebabkan perubahan pada jaringan otot. Seiring bertambahnya usia, proporsi otot dan kandungan protein dalam tubuh mengalami penurunan.
Pada usia 60 tahun ke atas, massa otot diperkirakan berkurang sekitar 0,7–0,8% setiap tahun. Penurunan tersebut tidak selalu terlihat dari ukuran tubuh. Sebagai contoh, lingkar lengan atas dapat tampak relatif sama, tetapi komposisi jaringan di dalamnya telah mengalami perubahan.
Fenomena Marbling pada Otot
Salah satu perubahan yang terjadi pada otot adalah munculnya kondisi yang menyerupai marbling. Pada otot yang lebih muda, serabut otot tersusun padat dengan kandungan lemak yang relatif sedikit.
Pada proses penuaan, ruang di antara serabut otot mulai terisi oleh lemak serta jaringan non-otot, seperti kolagen. Akibatnya, volume otot dari luar dapat terlihat serupa, tetapi kualitas jaringan otot telah mengalami penurunan.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari kondisi yang dikenal sebagai sarkopenia.
Proses Penurunan Otot Dimulai Sejak Usia 25 Tahun
Penurunan kualitas otot sebenarnya telah dimulai sejak usia sekitar 25 tahun. Secara bertahap ukuran dan jumlah serabut otot mulai berkurang.
Oleh karena itu, aktivitas fisik sejak usia muda menjadi salah satu upaya untuk membantu menurunkan risiko frailty, sarkopenia, maupun gangguan otot lainnya. Pendekatan yang dilakukan berupa kombinasi latihan resistensi dan konsumsi protein dalam jumlah yang memadai.
Respons Anabolik Berkurang pada Senior
Pada proses penuaan, kemampuan tubuh melakukan proses anabolisme mengalami penurunan.
Latihan resistensi dan konsumsi protein yang mampu meningkatkan massa otot pada usia muda memberikan respons yang lebih kecil ketika dilakukan pada usia lanjut. Dengan latihan dan asupan protein yang sama, peningkatan massa otot pada usia 60 tahun lebih rendah dibandingkan ketika dilakukan pada usia 30 tahun.
Hal tersebut terjadi karena kemampuan otot menerima sinyal insulin sebagai sinyal anabolik mengalami penurunan sehingga proses pembentukan massa otot menjadi lebih rendah.
Akibatnya, massa otot, kekuatan otot, serta daya tahan otot mengalami penurunan selama proses penuaan.
Lemak Intramuskular Meningkat
Di antara serabut otot terdapat lemak yang disebut sebagai lemak intramuskular. Lemak ini sebenarnya sudah ada sejak usia muda, tetapi jumlahnya meningkat selama proses penuaan.
Pada atlet, terutama atlet olahraga ketahanan (endurance), cadangan lemak di sekitar otot dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi selama aktivitas fisik sehingga membantu meningkatkan performa.
Sebaliknya, pada senior, lemak yang berada di sekitar serabut otot lebih sedikit dimanfaatkan sebagai sumber energi. Lemak tersebut cenderung menumpuk sehingga dapat menyebabkan penumpukan seramid dan mengganggu fungsi otot.
Penurunan Jumlah Sel Satelit
Proses pembentukan otot melibatkan sel satelit, yaitu sel yang berperan memperbaiki jaringan otot setelah terjadi kerusakan akibat latihan.
Ketika seseorang melakukan latihan beban, serabut otot mengalami kerusakan kecil. Sel satelit kemudian bergerak menuju area tersebut, membentuk serabut otot baru, dan meningkatkan ukuran jaringan otot.
Pada proses penuaan, jumlah sel satelit mengalami penurunan. Akibatnya, kemampuan membentuk jaringan otot baru menjadi lebih rendah dibandingkan saat masih muda.
Karena itu, peningkatan massa otot pada senior tidak sebesar peningkatan yang terjadi pada usia muda meskipun melakukan latihan yang sama.
Mitokondria Juga Mengalami Perubahan
Mitokondria merupakan organel sel yang berperan mengubah zat gizi menjadi energi.
Seiring bertambahnya usia, perubahan pada sel otot juga diikuti oleh perubahan pada mitokondria. Jumlah maupun fungsi mitokondria mengalami penurunan sehingga kemampuan menghasilkan energi menjadi lebih rendah.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah merasa lelah dan tidak sebertenaga ketika masih muda.
Namun, kondisi awal seseorang juga berperan. Individu yang sejak muda aktif berolahraga memiliki fungsi mitokondria yang lebih baik. Walaupun jumlah dan fungsi mitokondria tetap menurun selama proses penuaan, kondisi awal yang lebih baik membuat kemampuan fisiknya tetap lebih baik dibandingkan individu yang kurang aktif.
Perubahan Berat Badan pada Proses Penuaan
Selama proses penuaan terjadi penurunan massa otot dan peningkatan massa lemak. Kondisi tersebut menyebabkan berat badan dapat tetap stabil atau bahkan meningkat pada usia tertentu.
Namun, setelah memasuki usia sekitar 70 tahun, berat badan mulai mengalami penurunan seiring berlanjutnya perubahan komposisi tubuh.
Buku Gizi untuk Lanjut Usia merupakan panduan komprehensif yang membahas perubahan fisiologis akibat proses penuaan serta implikasinya terhadap kebutuhan gizi pada senior. Buku ini mengulas berbagai topik penting, mulai dari perubahan metabolisme, kebutuhan zat gizi makro dan mikro, pencegahan serta penatalaksanaan masalah gizi seperti osteoporosis, frailty, sarcopenia, obesitas, hingga penurunan fungsi kognitif. Selain menjelaskan dasar ilmiah yang berbasis bukti, buku ini juga menyajikan contoh menu, rekomendasi praktis, dan strategi pemenuhan gizi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini menjadi referensi bagi mahasiswa, dosen, tenaga kesehatan, pendamping senior, maupun masyarakat yang ingin memahami bagaimana menjaga kesehatan, fungsi tubuh, dan kualitas hidup pada usia lanjut melalui intervensi gizi yang tepat. Informasi mengenai buku ini dapat dilihat pada halaman resmi Gizi untuk Lanjut Usia.


Leave a Reply