Cara Melakukan Skrining Risiko Malnutrisi pada Lanjut Usia dengan NSI dan Mini Nutritional Assessment

Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien

Skrining risiko malnutrisi pada senior dapat dilakukan menggunakan beberapa alat. Salah satunya adalah Nutrition Screening Initiative atau NSI. NSI merupakan skrining yang dikembangkan oleh beberapa asosiasi yang kemudian mengompilasi model pengukuran dan menambahkan skor pada beberapa komponen yang perlu dijawab.

Skrining ini dapat digunakan untuk melihat risiko penurunan status gizi pada senior.

Nutrition Screening Initiative (NSI)

Dalam NSI, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah apakah seseorang merasa sakit atau memiliki kondisi yang memengaruhi kemampuan untuk makan.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengalami flu atau demam, keinginan makan dapat berkurang. Karena itu, kondisi tersebut menjadi salah satu pertanyaan dalam proses skrining.

Selanjutnya, perlu dilihat apakah senior mengonsumsi makanan kurang dari dua kali per hari. Informasi ini dapat diperoleh dari data recall dengan melihat apakah frekuensi makan lebih rendah dari dua kali per hari.

Komponen berikutnya adalah konsumsi sayur, buah, dan produk olahan susu. Konsumsi yang rendah dapat dikategorikan sebagai konsumsi yang tidak sesuai dengan standar atau kebutuhan.

NSI juga melihat konsumsi alkohol. Konsumsi tiga atau lebih porsi minuman beralkohol per hari menjadi salah satu penanda penurunan status gizi atau risiko malnutrisi pada senior. Kondisi konsumsi alkohol lebih dari tiga porsi minuman beralkohol per hari akan meningkatkan skor.

Kondisi Gigi dan Mulut

Kondisi gigi dan mulut juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam skrining.

Perlu dilihat apakah senior memiliki masalah dengan gigi dan mulut. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan untuk mengonsumsi makanan.

Selain itu, perlu diperhatikan apakah senior memiliki uang untuk membeli makanan yang diperlukan.

Kebiasaan Makan dan Interaksi Sosial

Dalam proses skrining juga dapat ditanyakan mengenai kebiasaan makan.

Apakah senior sering makan sendiri atau biasanya makan bersama keluarga maupun teman-temannya?

Pada senior yang tinggal di nursing facility, mereka dapat makan bersama orang-orang lain yang tinggal di tempat tersebut. Kondisi tinggal bersama orang lain juga dapat memberikan kesempatan untuk memiliki interaksi dengan teman-teman yang berada di tempat yang sama.

Konsumsi Obat-obatan

Konsumsi obat-obatan juga menjadi salah satu komponen dalam skrining.

Perlu dilihat apakah senior mengonsumsi obat-obatan, terutama ketika jumlah obat yang dikonsumsi lebih dari tiga jenis per hari.

Selain itu, perlu dilihat apakah terjadi penurunan berat badan yang berlebihan.

Kemampuan Melakukan Aktivitas

Komponen berikutnya berkaitan dengan kemampuan melakukan aktivitas secara mandiri.

Perlu dilihat apakah senior dapat melakukan aktivitas seperti berbelanja, makan, atau memasak sendiri.

Nilai dari berbagai komponen tersebut kemudian dikumpulkan untuk mendapatkan skor.

Pada NSI, semakin sedikit skor yang diperoleh berarti nutrition score-nya semakin bagus. Jika skor berada pada rentang 0โ€“2, kondisinya termasuk bagus.

Jika skor berada pada rentang 3โ€“5, kondisinya termasuk sedang. Meskipun kondisinya bagus, pengecekan tetap perlu dilakukan setiap enam bulan sekali.

Jika skor berada pada rentang 3โ€“5, perlu dilihat apa saja yang dapat diperbaiki dari pola makan.

Karena itu, dietary assessment menjadi penting dalam rangkaian proses penilaian status gizi. Dari dietary assessmentdapat dilihat apakah terdapat bagian atau pola makan yang masih dapat ditingkatkan dan apakah kondisi tersebut dapat mengarah pada masalah kekurangan gizi.

Pada program senior nutrition atau program tertentu yang berusaha meningkatkan status gizi atau kesehatan senior, apabila diperlukan, seseorang dapat diminta melakukan pengecekan nutrisi setelah tiga bulan.

Jika skor berada di atas 6, maka sudah terdapat risiko yang tinggi. Hasil skrining tersebut perlu dibawa kepada dokter atau ahli gizi untuk melihat kondisi yang perlu diperbaiki, termasuk apa yang perlu ditingkatkan maupun dikurangi.

Proses skrining dapat dilakukan oleh berbagai pihak. Skrining bahkan dapat dilakukan sendiri di rumah oleh keluarga, oleh orang yang bekerja di nursing facility, atau oleh orang-orang di sekitar senior.

Ketika skor berada di atas 6, hasil tersebut perlu dibawa kepada petugas kesehatan agar kondisi dapat dilihat lebih lanjut dan dapat ditentukan apa yang perlu diperbaiki.

Mini Nutritional Assessment

Selain NSI, terdapat model skrining lain yang disebut Mini Nutritional Assessment.

Model ini merupakan salah satu screening tool yang dapat digunakan untuk melihat kondisi gizi. Di rumah sakit juga terdapat beberapa screening tool yang dapat digunakan untuk pasien, dan skrining untuk senior juga dapat dilakukan.

Dalam Mini Nutritional Assessment, terdapat beberapa pertanyaan. Setiap jawaban memiliki nilai dari 0 sampai 2.

Pertanyaan pertama berkaitan dengan apakah terjadi penurunan nafsu makan atau terdapat masalah pada pencernaan, mengunyah, atau menelan.

Kondisi tersebut kemudian dilihat tingkatannya, apakah sedang atau meningkat, berkurang, atau tidak mengalami masalah.

Ketika tidak ada masalah, nilainya adalah 2. Ketika masalahnya berat, nilainya adalah 0.

Berbeda dengan NSI, pada Mini Nutritional Assessment semakin rendah nilainya maka risiko malnutrisinya semakin meningkat.

Penurunan Berat Badan dalam Tiga Bulan Terakhir

Komponen berikutnya adalah penurunan berat badan dalam tiga bulan terakhir.

Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan apakah terjadi penurunan berat badan. Jawabannya dapat berupa tidak mengalami penurunan berat badan, mengalami penurunan sekitar 1โ€“3 kilogram, tidak mengetahui, atau mengalami penurunan berat badan lebih dari 3 kilogram.

Penurunan berat badan lebih dari 3 kilogram menjadi salah satu kondisi yang diperhatikan dalam penilaian.

Mobilitas

Mobilitas juga menjadi bagian dari penilaian.

Perlu dilihat apakah senior dapat bergerak atau hanya tidur dan duduk. Kemudian dilihat apakah dapat berdiri, dapat keluar, atau bahkan sudah lebih aktif.

Kondisi Stres dan Neuropsikologi

Kondisi stres juga menjadi salah satu komponen yang diperhatikan. Pertanyaannya berkaitan dengan apakah seseorang mengalami stres dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, terdapat komponen neuropsikologi yang juga perlu dilihat, termasuk apakah terdapat masalah pada dimensi tersebut.

Indeks Massa Tubuh

Komponen terakhir adalah BMI atau indeks massa tubuh.

Komponen-komponen tersebut dapat menggambarkan status gizi secara umum pada senior. Dalam penilaian yang dijelaskan, poin 0 sampai 7 masuk dalam kondisi malnutrisi, sedangkan nilai di atas 12 menunjukkan kondisi normal.

Namun, pengukuran BMI tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang memiliki status gizi normal.

Sebagai contoh, seseorang dapat memiliki BMI 23, tetapi sebelumnya memiliki berat badan berlebih pada usia yang lebih muda. Setelah usia 70 tahun, berat badan mulai berkurang. Pada kondisi tersebut, meskipun BMI masih berada di atas 23, dapat terjadi kesulitan bergerak dan weight loss.

Pelajari Lebih Lanjut tentang Gizi untuk Lanjut Usia

Pembahasan mengenai gizi pada senior, termasuk proses asesmen dan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi risiko masalah gizi, dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku Gizi untuk Lanjut Usia. Buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami berbagai aspek gizi pada senior secara lebih lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts