MUFA dan Nutrigenetik: Mengapa Sebagian Orang Mendapat Manfaat Lebih Besar dari Lemak Sehat?
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
MUFA (monounsaturated fatty acid) dikenal sebagai salah satu jenis lemak baik. Berbagai penelitian dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa konsumsi MUFA yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung, penyakit kardiovaskular, serta membantu pengelolaan berat badan.
Namun, manfaat MUFA ternyata tidak selalu sama pada setiap orang. Respons tubuh terhadap asupan MUFA juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Buku ini membahas bagaimana variasi genetik dapat membantu menentukan siapa yang berpotensi memperoleh manfaat lebih besar dari konsumsi MUFA.
Apa Itu MUFA?
Lemak dalam makanan terdiri atas beberapa jenis, salah satunya adalah MUFA (monounsaturated fatty acid). MUFA termasuk kelompok lemak yang dikatakan sebagai lemak baik karena berbagai penelitian menunjukkan manfaatnya terhadap kesehatan metabolik.
Diet yang tinggi MUFA banyak dijumpai pada pola makan masyarakat di kawasan Mediterania, seperti Yunani dan Italia.
Sumber MUFA dalam Makanan
Salah satu sumber MUFA yang paling dikenal adalah minyak zaitun.
Selain minyak zaitun, MUFA juga terdapat pada beberapa bahan makanan lain, seperti:
- minyak kelapa sawit,
- minyak kacang,
- kacang-kacangan,
- biji-bijian,
- ikan.
Meskipun demikian, minyak zaitun memiliki proporsi MUFA yang lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis minyak lainnya.
Manfaat MUFA bagi Tubuh
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa MUFA memiliki berbagai fungsi dalam tubuh, antara lain:
- membantu menjaga kesehatan metabolik,
- membantu mengatur pemecahan lemak,
- meningkatkan efisiensi pembakaran lemak,
- membantu mengatur metabolisme glukosa sehingga kadar gula darah menjadi lebih stabil.
Karena itu, peningkatan konsumsi MUFA menjadi salah satu pendekatan dalam pola makan yang lebih sehat.
Cara Meningkatkan Asupan MUFA
Untuk meningkatkan asupan MUFA, salah satu pendekatan yang dibahas adalah memperbanyak konsumsi makanan yang menjadi sumber MUFA, seperti:
- kacang-kacangan,
- biji-bijian,
- ikan,
- beberapa jenis minyak yang kaya MUFA.
Di sisi lain, konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh, seperti santan, gorengan berlebihan, dan daging merah, perlu dikurangi.
Mengapa Respons terhadap MUFA Berbeda pada Setiap Orang?
Tidak semua orang memperoleh manfaat yang sama dari konsumsi MUFA.
Respons tubuh terhadap MUFA juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Sebagian orang memiliki variasi genetik yang membuat mereka lebih sesuai untuk meningkatkan konsumsi MUFA karena tubuhnya mampu memberikan respons metabolik yang lebih baik terhadap jenis lemak tersebut.
Peran Gen ADIPOQ dalam Respons terhadap MUFA
Salah satu gen yang dibahas adalah ADIPOQ.
Gen ini berhubungan dengan adiponektin, yaitu molekul yang diproduksi oleh jaringan lemak (jaringan adiposa) dan memiliki peran penting dalam kesehatan metabolik.
Produksi adiponektin dipengaruhi oleh asupan MUFA. Pada individu dengan variasi tertentu pada gen ADIPOQ, peningkatan konsumsi MUFA dapat memberikan manfaat yang lebih nyata dibandingkan individu lainnya.
Genetic Testing untuk Menyesuaikan Pola Makan
Bagi seseorang yang telah menjalani genetic testing, hasil pemeriksaan dapat menunjukkan ada atau tidaknya variasi pada gen ADIPOQ. Apabila ditemukan variasi tertentu, salah satu rekomendasi yang dapat diberikan adalah meningkatkan asupan MUFA melalui makanan.
Pendekatan ini memanfaatkan informasi genetik sebagai dasar dalam menyusun rekomendasi diet yang lebih sesuai dengan karakteristik masing-masing individu.
Buku yang Membahas Nutrigenetik dan MUFA
Buku ini membahas hubungan antara MUFA, kesehatan metabolik, dan variasi genetik dalam pendekatan nutrigenetik. Pembahasan meliputi manfaat MUFA, sumber-sumber MUFA dalam makanan, peran gen ADIPOQ terhadap produksi adiponektin, serta pemanfaatan hasil genetic testing untuk membantu menyusun rekomendasi pola makan yang lebih sesuai dengan karakteristik genetik setiap individu.


Leave a Reply