Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Sarkopenia merupakan kondisi yang berkaitan dengan penurunan massa dan fungsi otot. Kondisi ini identik dengan proses penuaan, meskipun penurunan massa otot sebenarnya dapat mulai terjadi pada usia yang lebih muda.
Dalam pembahasan mengenai frailty pada lanjut usia, sarkopenia menjadi salah satu komponen yang penting untuk dipahami. Perubahan pada massa dan fungsi otot dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Perubahan Massa Otot Seiring Bertambahnya Usia
Sepanjang kehidupan, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa hingga lanjut usia, terjadi perubahan pada sistem otot.
Massa otot mengalami peningkatan ketika seseorang menuju dewasa. Setelah mencapai periode tertentu, massa otot relatif stabil dan kemudian perlahan-lahan mengalami penurunan.
Penurunan massa otot dapat mulai terlihat setelah usia 45 tahun. Namun, pada usia 20 hingga 30 tahun juga sudah dapat mulai muncul tanda-tanda penurunan. Waktu dan tingkat penurunan tersebut dapat berbeda pada setiap individu.
Ada individu yang mampu mempertahankan massa otot dalam waktu yang lebih lama, sementara individu lainnya lebih mudah mengalami penurunan massa otot.
Perbedaan Massa Otot pada Laki-Laki dan Perempuan
Laki-laki memiliki massa otot yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Selain jumlah massa otot, terdapat pula perbedaan dalam persebaran otot.
Persebaran otot antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan, meskipun perbedaan tersebut tidak selalu memberikan pengaruh yang besar.
Pada perempuan, banyak massa otot berada pada jaringan yang terdapat di ekstremitas bawah.
Perubahan massa otot juga terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia sekitar 30 tahun, seseorang berada pada puncak performa atau puncak massa otot. Setelah memasuki usia 40 tahun, massa otot mulai berkurang dan kemudian penurunan tersebut berlanjut pada usia lanjut.
Sarkopenia dan Penuaan
Sarkopenia merupakan kondisi berupa penurunan massa otot yang dapat terjadi akibat penuaan. Kondisi ini dapat menjadi salah satu masalah yang muncul pada lanjut usia.
Sarkopenia berasal dari bahasa Yunani yang merupakan kombinasi kata yang berarti daging atau jaringan otot dan kehilangan. Dengan demikian, sarkopenia berkaitan dengan kehilangan massa otot.
Meskipun sarkopenia identik dengan penuaan, kondisi ini juga dapat terjadi pada usia yang belum terlalu tua.
Penurunan massa otot pada proses penuaan dapat memiliki tingkat dan waktu yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup dan faktor genetik.
Seseorang dengan gaya hidup yang baik tetap dapat mengalami penurunan massa otot, tetapi potensi massa ototnya dapat lebih besar sehingga penurunan hingga mencapai tingkat tertentu terjadi lebih lambat.
Sebaliknya, gaya hidup yang buruk dapat menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami penurunan massa otot.
Pola makan, asupan protein, aktivitas fisik, waktu tidur, dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Aktivitas Fisik dan Massa Otot
Penggunaan tubuh sejak usia muda memiliki pengaruh terhadap kualitas tubuh ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Aktivitas fisik menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga fungsi otot. Contohnya dapat dilihat pada orang yang tetap aktif melakukan aktivitas fisik hingga usia lanjut. Sebagian orang yang sudah berusia 60 tahun lebih masih dapat melakukan aktivitas seperti bertani, berjalan, dan bergerak secara aktif.
Di sisi lain, terdapat orang dengan usia yang sama yang sudah mengalami berbagai penyakit sehingga mengalami kesulitan dalam berjalan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bagaimana seseorang menggunakan tubuhnya semasa muda memiliki pengaruh terhadap kualitas tubuh ketika memasuki usia lanjut.
Muscle Damage dan Muscle Hypertrophy
Dalam konteks fungsi otot terdapat hubungan antara aktivitas fisik, muscle damage, dan muscle hypertrophy. Kerusakan otot dan hipertrofi merupakan dua proses yang terjadi dalam tubuh. Pada akhirnya, otot dapat mengalami kerusakan. Namun, apabila pola makan baik, massa otot yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki dan jaringan otot dapat meningkat.
Peningkatan tersebut dapat mendukung aktivitas fisik. Sebaliknya, ketika aktivitas fisik rendah, seseorang lebih mudah mengalami muscle damage. Untuk mendapatkan kondisi yang mendukung hipertrofi otot, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah meningkatkan sintesis protein, menurunkan peradangan, dan menurunkan stres oksidatif atau radikal bebas.
Ketiga prinsip tersebut menjadi bagian yang diperlukan untuk mengubah kondisi muscle damage menjadi muscle hypertrophy.
Peran Gizi dalam Menjaga Massa Otot
Otot merupakan jaringan yang terus mengalami perubahan. Terdapat proses kerusakan dan proses peningkatan kualitas atau massa otot. Kecepatan penurunan massa otot bergantung pada seberapa cepat otot mengalami kerusakan dan seberapa cepat otot mengalami peningkatan kualitas atau hipertrofi.
Kedua komponen tersebut kemudian memengaruhi aktivitas fisik seseorang. Ketika hipertrofi otot berjalan dengan baik, aktivitas fisik dapat lebih didukung.
Dalam konteks diet pada pasien yang mengalami frailty atau penurunan massa otot, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan, yaitu:
- Protein
- Omega-3
- Vitamin, terutama vitamin D
- Antioksidan
Zat gizi tersebut menjadi bagian yang dipertimbangkan karena diharapkan dapat mendukung peningkatan sintesis protein, menekan peradangan, dan menekan stres oksidatif. Apabila peradangan dan oksidasi tidak ditekan, muscle damage dapat mengalami peningkatan.
Faktor yang Berhubungan dengan Sarkopenia
Salah satu faktor yang menyebabkan sarkopenia adalah otot yang jarang digunakan. Kurangnya olahraga dapat meningkatkan risiko mengalami penurunan massa dan fungsi otot.
Selain itu, penurunan fungsi endokrin juga dapat meningkatkan sarkopenia. Penyakit kronis, peradangan, resistensi insulin, dan kekurangan zat gizi, baik zat gizi makro maupun mikro, juga dapat berkontribusi terhadap sarkopenia.
Pada individu dengan kegemukan, risiko mengalami sarkopenia juga dapat meningkat. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan peradangan, peningkatan resistensi insulin, dan gangguan sistem endokrin yang dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mempertahankan massa otot.
Pengukuran Massa Otot
Selain gait speed dan hand grip strength, massa otot juga dapat digunakan dalam pengukuran sarkopenia.
Terdapat berbagai penelitian yang memberikan patokan mengenai kapan massa otot dikatakan rendah. Salah satu contoh menyebutkan massa otot kurang dari 7,23 kg/mยฒ pada laki-laki dan kurang dari 5,67 kg/mยฒ pada perempuan.
Pengukuran massa otot dapat dilakukan menggunakan berbagai metode, salah satunya dengan MRI.
Pada pemeriksaan tersebut dapat terlihat perubahan jaringan otot pada proses penuaan. Massa otot dapat mengalami penyusutan, sementara sel-sel lemak dapat menginfiltrasi jaringan di sekitar otot.
Kombinasi antara penurunan massa otot, peningkatan massa lemak, dan infiltrasi lemak di sekitar jaringan otot dapat menyebabkan fungsi otot berkurang.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan aktivitas seperti berjalan sejauh 400 meter terasa melelahkan. Massa otot yang lebih sedikit harus menopang beban tubuh yang lebih besar ketika terdapat peningkatan massa lemak.
Sarkopenia, Wasting, dan Kakeksia
Sarkopenia berbeda dengan kakeksia. Sarkopenia berkaitan dengan proses aging atau penuaan, sedangkan kakeksia berkaitan dengan penyakit.
Penyakit kronis seperti kanker dan HIV, termasuk infeksi kronis, dapat berdampak pada wasting atau kondisi yang kadang disebut sebagai kakeksia.
Pada penyakit kronis, kebutuhan energi dapat meningkat sehingga tubuh akhirnya memecah protein yang terdapat pada jaringan otot.
Dengan demikian, perubahan otot dapat berkaitan dengan beberapa kondisi, termasuk penuaan, obesitas, aktivitas fisik, maupun penyakit kronis.
Sarkopenia Tidak Hanya Terjadi pada Lanjut Usia
Sarkopenia tidak hanya terjadi pada lanjut usia. Penurunan massa otot dapat mulai terjadi pada usia yang lebih muda, termasuk pada usia 20 hingga 40 tahun.
Pada periode tersebut dapat terjadi penurunan massa otot, penurunan gait speed, penurunan fungsi otot, dan penurunan hand grip strength. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berkurangnya aktivitas fisik atau penurunan ukuran otot, baik tipe 1 maupun tipe 2.
Pada usia 40 hingga 60 tahun, dapat mulai terjadi kehilangan motor unit, penurunan aktivitas fisik, penambahan berat badan yang berlebihan, serta perubahan hormonal berupa penurunan produksi androgen.
Ketika memasuki usia 60 tahun ke atas, perubahan hormonal semakin terlihat, penyakit mulai muncul, dan nafsu makan dapat berkurang. Penurunan asupan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan tubuh memecah protein untuk digunakan sebagai energi.
Pelajari Lebih Lanjut tentang Gizi untuk Lanjut Usia
Pembahasan mengenai gizi pada senior, termasuk proses asesmen dan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi risiko masalah gizi, dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku Gizi untuk Lanjut Usia. Buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami berbagai aspek gizi pada senior secara lebih lengkap.


Leave a Reply