Vitamin D untuk Lansia: Mengapa Tidak Cukup Hanya dari Berjemur dan Makanan?
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Vitamin D merupakan salah satu zat gizi yang penting untuk diperhatikan seiring bertambahnya usia. Salah satu alasannya adalah meningkatnya risiko pengeroposan tulang dan patah tulang pada usia lanjut.
Berdasarkan data RISKESDAS RI yang dicantumkan dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Osteoporosis 2023, kejadian patah tulang di Indonesia mencapai 5,5% dan jumlah tersebut meningkat seiring bertambahnya usia. Kombinasi kerapuhan tulang dan trauma dapat meningkatkan risiko terjadinya patah tulang.
Lalu, mengapa vitamin D menjadi begitu penting untuk lansia? Dan apakah kebutuhan vitamin D cukup dipenuhi hanya dengan berjemur atau mengonsumsi makanan?
Mengapa Kebutuhan Vitamin D Perlu Diperhatikan pada Lansia?
Salah satu perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia adalah menurunnya kemampuan tubuh untuk memproduksi vitamin D.
Diperkirakan pada usia 60-an, kemampuan produksi vitamin D dapat berkurang hampir setengahnya. Sebagai gambaran, seseorang pada usia 20-an yang dapat menghasilkan sekitar 1.000 IU vitamin D secara internal dapat menghasilkan sekitar 500 IU pada usia 60-an. Sementara itu, kebutuhan vitamin D justru meningkat dibandingkan pada saat muda. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa pemenuhan vitamin D perlu mendapatkan perhatian lebih pada usia lanjut.
Kekurangan Vitamin D dan Risiko Pengeroposan Tulang
Masalah pengeroposan tulang pada lansia sering kali tidak disadari. Seseorang dapat mengalami pengeroposan tulang tanpa mengetahui kondisinya hingga akhirnya terjadi fraktur atau patah tulang, misalnya setelah mengalami jatuh.
Karena itu, perhatian terhadap kesehatan tulang sebaiknya tidak baru dilakukan setelah terjadi masalah.
Faktor risiko fraktur yang tercantum dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Osteoporosis 2023 antara lain usia, riwayat fraktur sebelumnya, indeks massa tubuh rendah, imobilitas, merokok, konsumsi glukokortikoid, asupan kalsium rendah, defisiensi vitamin D, dan konsumsi alkohol.
Dengan demikian, vitamin D tidak dapat dipandang secara terpisah dari keseluruhan pengelolaan gizi dan kesehatan tulang pada lansia.
Apakah Vitamin D Lansia Cukup dari Berjemur?
Berjemur sering menjadi salah satu cara yang dibicarakan ketika membahas vitamin D. Namun, kemampuan tubuh menghasilkan vitamin D melalui paparan sinar matahari mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Penurunan kemampuan produksi vitamin D tersebut membuat pemenuhan kebutuhan vitamin D pada lansia menjadi lebih kompleks. Karena itu, pemndekatan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D tidak cukup hanya melihat satu sumber saja.
Hal ini penting terutama ketika kebutuhan meningkat sementara kemampuan produksi tubuh menurun.
Apakah Makanan Saja Cukup untuk Memenuhi Vitamin D Lansia?
Makanan memang dapat menjadi sumber vitamin D. Namun, pilihan makanan yang mengandung vitamin D dalam jumlah cukup relatif terbatas.
Makanan pokok secara alami rendah vitamin D, sementara produk makanan dan minuman di Indonesia juga relatif jarang mendapatkan fortifikasi vitamin D. Beberapa sumber vitamin D yang disebutkan antara lain ikan berlemak seperti salmon, makarel, sarden, dan tuna; hati sapi dalam jumlah sedang; telur terutama kuning telur; udang dalam jumlah kecil; serta jamur yang terkena sinar UV.
Contohnya, satu potong tuna disebut mengandung sekitar 113 IU vitamin D dan satu butir telur sekitar 88 IU. Sementara kebutuhan yang disebutkan untuk lansia adalah sekitar 800 IU. Artinya, pemenuhan kebutuhan vitamin D dari makanan saja dapat menjadi tantangan apabila pilihan makanan dan jumlah konsumsinya terbatas.
Vitamin D dan Kalsium: Mengapa Keduanya Perlu Diperhatikan?
Pengelolaan kesehatan tulang pada lansia tidak hanya berkaitan dengan vitamin D. Kalsium juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Bahkan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan suplementasi kalsium dan vitamin D pada lansia.
Karena itu, pembahasan mengenai vitamin D untuk lansia sebaiknya ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan gizi pada usia lanjut secara keseluruhan.
Vitamin D Tidak Hanya Berkaitan dengan Tulang
Manfaat vitamin D tidak hanya berkaitan dengan pencegahan patah tulang.
kekurangan vitamin D pada lansia dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap beberapa penyakit metabolik, termasuk penyakit jantung, diabetes, hingga kanker.
Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan vitamin D pada usia lanjut perlu dilakukan secara lebih komprehensif, bukan hanya dari perspektif kesehatan tulang.

Jangan Menunggu Tua untuk Mulai Memperhatikan Gizi
Persiapan menghadapi usia lanjut sebaiknya dilakukan lebih dini. Sebagian orang memiliki potensi genetik tertentu yang dapat membuat kebutuhan vitamin D dan kalsium berbeda dari orang pada umumnya.
Artinya, memahami kebutuhan gizi pada usia lanjut bukan hanya penting bagi mereka yang sudah memasuki usia senior, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin mempersiapkan kesehatan di masa mendatang.
Namun, memahami vitamin D saja belum cukup. Gizi pada usia lanjut mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari kebutuhan zat gizi, kesehatan tulang, massa otot, hingga berbagai perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia.
Jika Anda ingin memahami lebih jauh mengenai bagaimana kebutuhan gizi berubah pada usia lanjut, bukuย Gizi untuk Lanjut Usiaย dapat menjadi bacaan yang relevan. Buku ini dapat membantu pembaca melihat persoalan gizi pada usia lanjut secara lebih menyeluruh, sehingga pembahasan mengenai vitamin D dan kalsium tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pemahaman yang lebih luas mengenai gizi untuk menghadapi proses penuaan. Jangan tunggu sampai memasuki usia lanjut untuk mulai memahami kebutuhan gizi pada usia lanjut. Pelajari lebih lengkap melalui bukuย Gizi untuk Lansia.


Leave a Reply