Mengenal Kerusakan DNA dan DNA Repair: Bagaimana Gizi Berperan?
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
DNA merupakan komponen penting dalam pengaturan berbagai sel tubuh. Selain berperan dalam pengaturan fungsi sel, DNA juga mengkode protein yang memiliki fungsi penting bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, DNA dapat mengalami kerusakan akibat berbagai faktor, termasuk paparan mutagen, polutan, dan gaya hidup yang buruk.
Apa yang Menyebabkan Kerusakan DNA?
Kerusakan DNA dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Infografis membagi faktor yang berhubungan dengan kerusakan DNA menjadi faktor eksternal dan faktor internal.
Paparan terhadap mutagen, polutan, serta gaya hidup yang buruk menjadi bagian dari faktor yang dapat menyebabkan DNA mengalami kerusakan. Kondisi ini menjadi penting untuk diperhatikan karena DNA memiliki peran dalam mengkode protein yang dibutuhkan oleh tubuh.
Tubuh Memiliki Sistem DNA Repair
Ketika DNA mengalami kerusakan, tubuh sebenarnya memiliki kemampuan untuk memperbaikinya. DNA yang rusak tidak langsung dibuang, tetapi menjalani proses perbaikan melalui sistem DNA repair yang terdapat di dalam tubuh.
Kemampuan memperbaiki DNA menjadi penting untuk mempertahankan fungsi sel. Namun, ketika kerusakan DNA tidak berhasil diperbaiki, terdapat sejumlah konsekuensi yang dapat terjadi pada sel.
Apa yang Terjadi Jika DNA Gagal Diperbaiki?
Kegagalan memperbaiki DNA yang rusak dapat menyebabkan sel mengalami apoptosis, menjadi senescence, atau berkembang menjadi sel kanker.
Salah satu kondisi yang menarik untuk dipahami adalah cellular senescence. Sel senescence merupakan sel yang sudah tidak lagi berfungsi dengan baik dan tidak dapat digantikan dengan sel baru yang masih produktif. Sel tersebut berhenti membelah secara permanen, tetapi tetap hidup dan dapat mengeluarkan molekul yang memengaruhi atau merusak sel produktif di sekitarnya. Kondisi ini dapat berkontribusi pada proses penuaan dan perkembangan penyakit.
DNA Repair dan Risiko Kanker
Kemampuan DNA repair juga memiliki hubungan dengan kerentanan seseorang terhadap kanker. Infografis menyebutkan bahwa DNA repair dapat digunakan sebagai salah satu indikator awal kerentanan terhadap kanker.
Berdasarkan studi yang dirangkum oleh Hui-Chen Wu dkk , 55 studi case-control yang mengevaluasi 12 jenis kanker menggunakan 10 metode DNA repair assay menunjukkan bahwa kapasitas DNA repair yang lebih rendah berhubungan dengan peningkatan risiko kanker. Pooled OR untuk seluruh jenis kanker adalah 2,92 (95% CI 2,49–3,43) pada kelompok dengan DNA repair terendah.
Saat ini juga telah berkembang teknik untuk mengukur kapasitas DNA repair seseorang.
Peran Gizi dalam DNA Repair
Menariknya, kemampuan DNA repair seseorang tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik. Infografis menyebutkan bahwa kapasitas DNA repair dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, asupan makanan, status gizi, dan gaya hidup.
Salah satu zat gizi yang disebut memiliki kaitan dengan proses ini adalah selenium. Selenium merupakan mineral yang dikenal memiliki efek terhadap pencegahan DNA damage dan mendukung DNA repair.
Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kerusakan DNA tidak hanya berkaitan dengan genetika, tetapi juga dengan aspek gizi dan gaya hidup.

Paparan Mutagen Tidak Selalu Berarti Pasti Mengalami Kanker
Kerentanan terhadap penyakit merupakan konsep penting dalam memahami hubungan antara kerusakan DNA dan kanker. Seseorang yang terpapar suatu mutagen tidak berarti pasti akan mengalami kanker. Salah satu alasannya adalah adanya perbedaan kapasitas DNA repair pada setiap individu.
Dengan demikian, dua orang yang mendapatkan paparan yang sama dapat memiliki risiko yang berbeda. Faktor genetik, asupan makanan, status gizi, dan gaya hidup dapat berperan dalam menentukan kapasitas DNA repair seseorang.
Mengapa Gizi Penting dalam Menjaga DNA?
Kerusakan DNA merupakan proses yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sementara tubuh memiliki sistem DNA repair untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Kapasitas perbaikan DNA seseorang juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, asupan makanan, status gizi, dan gaya hidup.
Karena itu, memahami hubungan antara genetik, gizi, gaya hidup, kerusakan DNA, dan DNA repair menjadi bagian penting dalam memahami kesehatan secara lebih personal. Pendekatan ini juga menjadi salah satu perspektif yang dibahas dalam nutrigenomik dan nutrigenetik, yaitu bagaimana faktor gizi berhubungan dengan sistem biologis dan variasi individu.
Pemahaman mengenai DNA repair menunjukkan bahwa respons tubuh terhadap kerusakan DNA tidak selalu sama pada setiap individu. Kapasitas DNA repair dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, asupan makanan, status gizi, dan gaya hidup, sehingga pendekatan gizi yang mempertimbangkan perbedaan individu menjadi semakin penting.
Di sinilah nutrigenetik menjadi relevan. Memahami bagaimana variasi genetik dapat berkaitan dengan respons tubuh terhadap asupan makanan dapat membantu kita melihat bahwa pendekatan gizi tidak selalu dapat disamaratakan. Buku Aplikasi Nutrigenetik hadir untuk membantu memahami konsep tersebut secara lebih praktis dan melihat bagaimana nutrigenetik dapat diterapkan dalam konteks gizi dan kesehatan.


Leave a Reply