Lemak Jenuh, Genetik, dan Risiko Kolesterol: Mengapa Respons Setiap Orang Berbeda?
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Lemak jenuh sering disebut sebagai lemak jahat karena berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan metabolik. Namun, mengapa ada orang yang sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh tetapi kadar kolesterolnya tetap normal, sementara orang lain baru sedikit mengonsumsi santan atau jeroan sudah mengalami peningkatan kolesterol?
Salah satu jawabannya adalah faktor genetik. Buku ini membahas bagaimana variasi gen dapat memengaruhi respons tubuh terhadap lemak jenuh sehingga rekomendasi diet tidak selalu sama pada setiap orang.
Apa Itu Lemak Jenuh?
Lemak dalam makanan secara umum terdiri dari tiga jenis, yaitu:
- lemak jenuh,
- lemak tidak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid atau MUFA),
- lemak tidak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid atau PUFA).
Di antara ketiga jenis tersebut, lemak jenuh merupakan jenis lemak yang dianjurkan untuk dibatasi apabila ingin meningkatkan kesehatan metabolik.
Beberapa organisasi kesehatan dan ilmiah juga merekomendasikan pembatasan konsumsi lemak jenuh agar tidak berlebihan.
Sumber Lemak Jenuh dalam Makanan
Lemak jenuh dapat ditemukan pada berbagai bahan makanan, di antaranya:
- santan,
- daging merah,
- jeroan,
- minyak kelapa sawit.
Meskipun kandungan lemak jenuh pada minyak kelapa sawit tidak setinggi santan, konsumsi makanan yang digoreng dalam jumlah banyak tetap dapat meningkatkan asupan lemak jenuh karena minyak yang terserap selama proses penggorengan.
Mengapa Lemak Jenuh Perlu Dibatasi?
Asupan lemak jenuh yang berlebihan dapat memberikan dampak terhadap kesehatan metabolik.
Lemak jenuh dapat:
- meningkatkan peradangan,
- menyebabkan penyumbatan pembuluh darah,
- meningkatkan kadar kolesterol,
- berhubungan dengan hipertensi,
- meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, pembatasan konsumsi lemak jenuh menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan.
Mengapa Ada Orang yang Lebih Sensitif terhadap Lemak Jenuh?
Menariknya, respons setiap orang terhadap lemak jenuh ternyata tidak sama.
Sebagian orang tampak lebih tahan terhadap konsumsi lemak jenuh, sedangkan sebagian lainnya sangat sensitif. Pada individu yang sensitif, konsumsi santan atau jeroan dalam jumlah sedikit saja dapat diikuti dengan peningkatan kadar kolesterol LDL maupun trigliserida.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah variasi genetik.
Peran Gen APOA dalam Metabolisme Lemak
Salah satu gen yang dibahas adalah APOA (apolipoprotein A).
Gen ini berhubungan dengan protein yang berperan membantu mengedarkan lemak di dalam aliran darah.
Apabila seseorang memiliki variasi pada gen APOA, kemampuan tubuh dalam mengatur lemak jenuh dapat berubah sehingga respons terhadap konsumsi lemak jenuh juga menjadi berbeda.
Inilah yang menyebabkan dua orang dengan pola makan yang hampir sama dapat memiliki kadar kolesterol yang berbeda.
Mengapa Tidak Boleh Membandingkan Diri dengan Orang Lain?
Sering kali seseorang merasa aman mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh karena melihat orang lain tidak mengalami kenaikan kolesterol. Padahal, respons tubuh terhadap makanan dapat berbeda karena dipengaruhi oleh variasi genetik. Oleh karena itu, kondisi seseorang tidak dapat disamakan dengan orang lain hanya berdasarkan pengalaman sehari-hari.
Genetic Testing untuk Mengetahui Sensitivitas terhadap Lemak Jenuh
Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki kecenderungan lebih sensitif terhadap lemak jenuh, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah genetic testing.
Pemeriksaan ini dapat mengevaluasi ada atau tidaknya variasi pada gen APOA. Apabila ditemukan variasi tersebut, pola makan dapat disesuaikan, misalnya dengan:
- mengurangi konsumsi santan,
- membatasi gorengan,
- mengurangi daging merah dan jeroan,
- memperbanyak sumber protein seperti ayam, ikan, dan seafood.
Pendekatan ini memanfaatkan informasi genetik sebagai dasar dalam menyusun pola makan sesuai karakteristik masing-masing individu.
Buku yang Membahas Nutrigenetik dan Lemak Jenuh
Buku ini membahas bagaimana variasi genetik dapat memengaruhi respons tubuh terhadap lemak jenuh serta bagaimana informasi tersebut dimanfaatkan untuk menyusun rekomendasi diet yang lebih sesuai dengan kondisi individu.
Pembahasan mencakup jenis-jenis lemak, sumber lemak jenuh, dampaknya terhadap kesehatan metabolik, peran gen APOA, hingga pemanfaatan hasil genetic testing untuk membantu menyesuaikan pola makan dalam upaya menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.


Leave a Reply