Frailty pada Lanjut Usia: Mengenal Perbedaannya dengan Sarkopenia dan Malnutrisi
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Frailty merupakan salah satu kondisi yang perlu diperhatikan pada lanjut usia. Dalam pelayanan gizi dan kesehatan, penting untuk memahami apa yang terjadi ketika seseorang mengalami frailty, bagaimana membedakannya dengan sarkopenia dan malnutrisi, serta bagaimana kondisi tersebut dapat ditangani secara multidisipliner.
Pembahasan mengenai frailty juga berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada otot ketika seseorang mengalami penuaan. Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan pada otot dan metabolisme otot. Perubahan tersebut kemudian berkaitan dengan bagaimana zat gizi dapat berdampak pada kondisi tersebut.
Mengenal Frailty pada Lanjut Usia
Frailty merupakan kondisi yang berhubungan dengan penurunan akibat usia dan bersifat progresif. Kondisi ini terjadi pada berbagai sistem fisiologis sehingga seseorang menjadi lebih mudah terdampak oleh stressor.
Pada kondisi frailty, kapasitas seseorang untuk merespons stressor mengalami penurunan. Tingkat resistensinya menjadi lebih rendah sehingga ketika diberikan suatu stressor, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas tanpa bantuan atau sistem yang mendukung.
Kondisi ini berbeda dengan sarkopenia. Sarkopenia secara spesifik membahas perubahan yang terjadi pada otot, baik dari sisi massa maupun fungsi otot. Sementara itu, frailty memiliki cakupan yang lebih luas.
Pada frailty, terdapat berbagai komponen seperti penurunan berat badan, gangguan kognitif, gangguan sosial, perubahan perilaku, dan kelelahan. Beberapa komponen yang berhubungan dengan otot juga dapat ditemukan, seperti melemahnya kekuatan otot, gait speed, dan keseimbangan.
Dengan demikian, sarkopenia dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap frailty, tetapi frailty tidak hanya berkaitan dengan otot.
Frailty, Sarkopenia, dan Malnutrisi
Sarkopenia memiliki hubungan yang erat dengan malnutrisi. Namun, ketiga kondisi tersebut perlu dibedakan karena memiliki komponen yang berbeda.
Malnutrisi melihat status gizi secara umum. Seseorang dapat mengalami penurunan berat badan dan kehilangan massa otot, tetapi kondisi tersebut tidak selalu terlihat sebagai malnutrisi apabila massa lemaknya meningkat. Akibatnya, seseorang dapat memiliki BMI normal, bahkan mengalami overweight atau obesitas, tetapi mengalami sarkopenia.
Sarkopenia juga dapat muncul ketika seseorang mengalami kegemukan. Kondisi kegemukan dapat meningkatkan risiko terjadinya sarkopenia.
Sarkopenia dipengaruhi oleh berbagai kondisi, termasuk kondisi endokrin. Hormon seperti kortikosteroid, IGF-1, dan gangguan fungsi tiroid dapat berdampak pada kondisi sarkopenia. Penurunan fungsi hormon seks, misalnya testosteron atau estrogen, juga dapat berdampak pada kemampuan atau massa otot.
Tidak digunakannya otot dengan baik juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan sarkopenia. Orang yang jarang berolahraga lebih rentan mengalami sarkopenia. Selain itu, malabsorpsi, asupan, dan kondisi penyakit juga dapat berhubungan dengan sarkopenia.
Pengukuran Sarkopenia pada Lanjut Usia
Ketika ingin mendiagnosis sarkopenia, salah satu hal yang diperhatikan adalah usia. Ketika seseorang sudah berusia di atas 65 tahun, risiko mengalami sarkopenia meningkat.
Pengukuran dapat dilakukan dengan melihat gait speed, yaitu kecepatan berjalan. Salah satu parameter yang digunakan adalah 0,8 meter per detik.
Apabila seseorang memiliki gait speed di atas 0,8 meter per detik, selanjutnya dapat dilakukan pengukuran hand grip strength. Apabila gait speed di atas 0,8 meter per detik dan kekuatan genggam masih normal, seseorang tidak mengalami sarkopenia berdasarkan alur tersebut.
Namun, apabila terdapat penurunan hand grip, kemudian dilakukan pemeriksaan massa otot. Ketika massa otot rendah, kondisi tersebut menunjukkan adanya sarkopenia.
Dengan demikian, terdapat tiga parameter yang digunakan dalam pengukuran tersebut, yaitu gait speed, hand grip strength, dan massa otot.
Pengukuran gait speed dilakukan dengan meminta seseorang berjalan. Pada contoh pengukuran, seseorang berjalan terlebih dahulu pada area akselerasi kemudian berjalan sejauh 4 meter. Waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut kemudian digunakan untuk menghitung kecepatan berjalan dalam meter per detik.
Selain gait speed, terdapat pengukuran hand grip strength. Alat pengukuran ini sudah mulai digunakan di beberapa rumah sakit dan tidak hanya digunakan untuk pengukuran pada lanjut usia, tetapi juga pada kondisi penyakit lainnya.
Nilai cut-off kekuatan genggam dapat berbeda berdasarkan populasi. Pada cut-off Eropa, nilai yang digunakan adalah kurang dari 30 untuk laki-laki dan kurang dari 20 untuk perempuan. Sementara itu, pada populasi Asia, berdasarkan Asian Working Group, digunakan nilai 26 untuk laki-laki dan 18 untuk perempuan.
Perbedaan nilai tersebut menunjukkan bahwa massa dan fungsi otot pada setiap ras dapat bervariasi.
Perbedaan Kondisi Frailty dan Robust
Seseorang yang berada dalam kondisi robust masih aktif dan memiliki kemampuan yang baik dalam merespons stressor. Ketika diberikan suatu aktivitas atau stressor, seseorang masih mampu melakukannya tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
Berbeda dengan kondisi frailty. Pada kondisi ini terjadi penurunan kapasitas atau kemampuan dalam merespons stressor. Tingkat resistensi menjadi lebih rendah sehingga seseorang lebih mudah mengalami kesulitan ketika diberikan stressor.
Ketergantungan juga mulai meningkat. Seseorang mungkin membutuhkan bantuan atau sistem pendukung untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri.
Komponen dalam Menentukan Frailty
Terdapat beberapa komponen yang dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang mengalami frailty. Komponen tersebut meliputi weight loss, exhaustion, rendahnya energi, gait speed, dan hand grip strength.
1. Weight Loss
Salah satu komponen yang diperhatikan adalah penurunan berat badan. Penurunan berat badan dalam beberapa bulan terakhir dapat menjadi tanda awal adanya frailty.
Sebagai contoh, seseorang saat ini memiliki berat badan 60 kg. Ketika ditanyakan berat badan pada tahun sebelumnya dan ternyata mencapai 70 kg, berarti telah terjadi penurunan berat badan yang cukup banyak.
Penurunan berat badan menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan dalam kondisi frailty.
2. Exhaustion
Komponen berikutnya adalah exhaustion atau kelelahan. Kondisi ini ditandai dengan mudah merasa lelah dan merasa bahwa aktivitas sederhana membutuhkan usaha yang sangat berat.
Aktivitas seperti bangun untuk makan, berjalan menuju tempat yang jaraknya dekat, atau melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyetrika dapat terasa sangat berat.
Frekuensi kelelahan juga dapat ditanyakan, misalnya apakah dalam satu minggu seseorang mengalami kondisi tersebut sebanyak tiga sampai empat kali.
3. Energy
Energi juga menjadi salah satu komponen yang diperhatikan. Pengeluaran energi dapat mengalami penurunan, termasuk berkurangnya aktivitas yang dilakukan seseorang.
Aktivitas fisik yang dilakukan dalam beberapa minggu terakhir dapat menjadi bagian yang ditanyakan untuk mengetahui kondisi tersebut.
4. Gait Speed
Gait speed merupakan salah satu parameter fungsi otot. Parameter ini digunakan dalam pengukuran sarkopenia dan juga digunakan dalam penilaian frailty.
Penurunan gait speed menunjukkan adanya penurunan kemampuan berjalan yang menjadi salah satu komponen dalam penilaian kondisi tersebut.
5. Hand Grip Strength
Hand grip strength atau kekuatan genggam juga menjadi salah satu komponen yang digunakan. Penurunan kekuatan genggam dapat menunjukkan adanya penurunan fungsi otot.
Pengukuran ini dapat dilakukan menggunakan alat khusus untuk mengetahui kekuatan genggam seseorang.
Penilaian Frailty dengan Beberapa Pertanyaan
Pada tahun 2020, sebuah tim dari Korea membuat alat ukur atau kuesioner yang dapat digunakan untuk menunjukkan apakah seseorang mengalami frailty atau tidak.
Beberapa pertanyaan di dalamnya berkaitan dengan kelelahan, resistensi, ambulation, inactivity, dan weight loss. Kelima komponen tersebut menjadi parameter penting dalam menentukan kondisi frailty.
Pada komponen kelelahan, seseorang ditanyakan apakah merasa lelah ketika melakukan aktivitas. Aktivitas sederhana seperti bangun untuk makan, berjalan dalam jarak dekat, atau melakukan aktivitas rumah tangga dapat terasa sangat berat.
Pada komponen resistensi, seseorang dapat diminta untuk menaiki sekitar 10 anak tangga tanpa bantuan. Apabila mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan, maka terdapat tambahan skor.
Pada komponen ambulation, seseorang ditanyakan mengenai kemampuan berjalan. Salah satu contoh yang digunakan adalah kemampuan berjalan sejauh 400 meter. Jika seseorang mengalami kesulitan berjalan sejauh tersebut, kondisi tersebut menjadi salah satu komponen dalam penilaian.
Komponen energi juga melihat aktivitas fisik yang dilakukan dalam beberapa minggu. Seseorang dapat ditanyakan apakah melakukan aktivitas yang menyebabkan terengah-engah atau mengalami kesulitan ketika melakukan aktivitas fisik.
Penilaian tersebut digunakan untuk melihat berbagai komponen yang berkaitan dengan kondisi frailty pada lanjut usia.
Manajemen Frailty pada Lanjut Usia
Manajemen pada pasien dengan frailty dilakukan ketika seseorang sudah mengalami masalah. Penanganannya dilakukan dalam konteks multidisipliner.
Meskipun gizi menjadi salah satu bagian yang penting, tenaga kesehatan lainnya juga memiliki peran. Dokter, perawat, dan berbagai tenaga kesehatan lainnya dapat berperan dalam memberikan layanan kepada pasien.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami frailty.
Pelajari Lebih Lanjut tentang Gizi untuk Lanjut Usia
Pembahasan mengenai gizi pada senior, termasuk proses asesmen dan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi risiko masalah gizi, dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku Gizi untuk Lanjut Usia. Buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami berbagai aspek gizi pada senior secara lebih lengkap.


Leave a Reply