Mengidentifikasi Risiko Masalah Gizi pada Lanjut Usia
Oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz, M.Sc, PhD, Dietisien
Sebelum memulai proses asesmen gizi pada senior, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah mengidentifikasi risiko masalah gizi.
Risiko masalah gizi dapat dilihat dari dua wilayah besar, yaitu risiko yang berhubungan dengan penyakit degeneratif dan risiko yang berhubungan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi.
Ketika seseorang diketahui memiliki risiko diabetes atau risiko penyakit jantung, misalnya, maka upaya pencegahan dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih terfokus. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki risiko malnutrisi, beberapa faktor yang meningkatkan kecenderungan kekurangan gizi perlu diperhatikan.
Dalam kondisi tersebut, proses asesmen menjadi penting untuk melihat pola diet dan menentukan apa yang perlu ditingkatkan, termasuk bagaimana dengan asupan protein dan komponen lainnya.
Dietary Assessment sebagai Bagian Penting dalam Asesmen Gizi
Dietary assessment menjadi bagian penting dalam proses mengidentifikasi masalah gizi. Hal ini terutama diperlukan ketika sudah mulai terdapat tanda-tanda tertentu, misalnya tekanan darah yang meningkat.
Seseorang mungkin pernah mengikuti kegiatan Posbindu. Ketika ditemukan tanda-tanda hipertensi yang meningkat, proses asesmen dapat dilanjutkan dengan melihat asupan sodium atau garam.
Asupan tersebut dapat berasal dari garam dapur maupun sodium atau natrium yang berasal dari produk makanan olahan. Identifikasi ini penting karena dari hasil identifikasi tersebut dapat ditentukan plan of action atau tindakan yang perlu disampaikan kepada klien.
Metode untuk Mengidentifikasi Risiko Malnutrisi
Ketika seseorang datang ke layanan gizi, masalah gizi atau risiko masalah gizi dapat dinilai menggunakan beberapa metode, tools, atau alat.
Ada berbagai metode yang telah dikembangkan dan digunakan untuk mendeteksi sejak dini apakah seorang pasien atau klien memiliki risiko mengalami kekurangan gizi.
Beberapa alat yang dapat digunakan antara lain Nutrition Screening Initiative, Mini Nutritional Assessment, dan Malnutrition Universal Screening Tool.
Alat-alat tersebut telah dirancang dengan tujuan untuk mendeteksi sejak dini apakah seorang pasien atau klien berisiko mengalami kekurangan gizi.
Penanda Awal Risiko Kekurangan Gizi
Sebelum menggunakan salah satu alat untuk melakukan skrining, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi penanda awal kekurangan gizi. Terdapat sembilan komponen yang dapat diperhatikan ketika melakukan wawancara. Komponen-komponen tersebut diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kekurangan gizi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Penyakit
Ada atau tidaknya penyakit perlu diperhatikan dalam proses asesmen awal. Kondisi penyakit menjadi salah satu komponen yang perlu diidentifikasi ketika menilai risiko kekurangan gizi.
2. Pola Makan
Pola makan perlu dilihat melalui wawancara dan dietary recall. Dari recall dapat diketahui apakah terdapat pola makan yang buruk atau berbagai keanehan dalam pola makan seseorang.
3. Kehilangan Gigi
Kondisi gigi juga perlu diperhatikan. Kehilangan gigi dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan masalah gizi.
4. Rasa Nyeri pada Mulut
Rasa nyeri di bagian mulut juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko masalah gizi.
5. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Senior kebanyakan sudah memasuki masa pensiun, sementara konteks pensiun di setiap negara berbeda.
Perlu diperhatikan apakah pendapatan atau kondisi ekonomi yang dimiliki dapat mencukupi seluruh kebutuhan. Dengan meningkatnya usia, peningkatan penyakit juga perlu diperhatikan dan kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kondisi ekonomi.
Dalam beberapa kultur, pengeluaran senior dapat ditanggung oleh anak. Namun, kondisi tersebut juga bergantung pada kemampuan finansial anak.
Karena itu, kondisi economic hardship pada senior perlu menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap risiko masalah gizi.
6. Penurunan Interaksi Sosial
Penurunan interaksi sosial juga dapat meningkatkan risiko masalah gizi.
Interaksi dengan rekan atau orang yang sebaya dapat berkurang ketika seseorang semakin tua. Karena itu, kegiatan seperti reuni dengan sesama teman sebaya menjadi sesuatu yang perlu diapresiasi.
Ketika interaksi sosial berkurang, risiko masalah gizi dapat meningkat. Kondisi tersebut dapat terjadi pada negara-negara Barat, di mana koneksi atau interaksi antarindividu tidak selalu seerat yang terdapat di wilayah Timur.
7. Pengobatan
Pengobatan yang dikonsumsi juga dapat memengaruhi risiko malnutrisi.
Ketika seseorang banyak mengonsumsi obat-obatan, risiko malnutrisi dapat menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, pengobatan yang dikonsumsi perlu ditanyakan dalam proses asesmen.
8. Penurunan Berat Badan yang Tidak Disadari atau Tidak Direncanakan
Penurunan berat badan yang tidak disadari, tidak diinginkan, atau tidak direncanakan juga perlu diperhatikan.
Berat badan yang tiba-tiba turun dapat menjadi penanda adanya berbagai masalah. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penyakit, pola makan yang kurang, maupun kondisi lainnya.
9. Kemampuan Melakukan Aktivitas secara Mandiri
Kemampuan melakukan aktivitas secara mandiri juga perlu diperhatikan.
Ketika seseorang tidak dapat melakukan aktivitas sendiri atau tidak lagi independen dan membutuhkan bantuan orang lain, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses identifikasi risiko kekurangan gizi.
Kondisi seperti ini banyak ditemukan di negara-negara maju. Pada beberapa wilayah, senior dapat menggunakan jasa orang lain untuk mendapatkan perhatian dan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Sembilan Komponen sebagai Penanda Awal
Sembilan komponen tersebut dapat menjadi faktor yang memengaruhi atau meningkatkan risiko kekurangan gizi dan menjadi penanda awal kekurangan gizi.
Dalam proses asesmen awal, perlu diperhatikan apakah seseorang memiliki penyakit atau tidak. Pola makan dapat dilihat melalui recall. Kondisi gigi juga perlu ditanyakan, termasuk apakah gigi masih lengkap dan bagaimana kondisinya.
Kondisi sosial ekonomi juga perlu diperhatikan tanpa harus menanyakan penghasilan secara langsung. Kondisi tersebut dapat dilihat secara lebih halus, misalnya dengan melihat bagaimana pemasukan atau bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.
Selain itu, pengobatan yang dikonsumsi juga perlu diketahui dalam proses asesmen.
Dengan mengidentifikasi berbagai faktor tersebut, risiko masalah gizi dapat dikenali sejak awal sehingga proses asesmen dan penentuan tindakan dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang ditemukan.
Pelajari Lebih Lanjut tentang Gizi untuk Lanjut Usia
Pembahasan mengenai gizi padaย senior, termasuk proses asesmen dan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi risiko masalah gizi, dapat dipelajari lebih lanjut melalui bukuย Gizi untuk Lanjut Usia. Buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami berbagai aspek gizi padaย seniorย secara lebih lengkap.


Leave a Reply